Selasa, 09 Juni 2020

Kisah Abah Umar Pendiri Asy-Syahadatain Versi IV


MENGENAL SEDIKIT TENTANG ASYSYAHADATAIN DAN PENDIRINYA

Abah Umar atau yang mempunyai nama asli Sayyid Umar dikenal oleh masyarakat Cirebon dan Indonesia sebagai pendiri Thoriqot Asy-Syahadatain.

Ciri dari Toriqot dan pengikut Abah Umar ini dapat mudah dikenali dari pakaiannya, mereka saat Ibadah pada umumnya mewajibkan jama'ahnya untuk memakai pakaian atau jubbah putih khas pakaian orang Arab pada jaman Nabi Muhamad masih hidup.
Ciri lain dari pengamal Thoriqot ini adalah wiridnya, biasanya mereka melakukan wiridan, atau pujian sebelum Sholat lima waktu dengan wiridan atau nadhoman yang diciptakan sendiri oleh Abah Umar.
Sebelum Abah Umar mendirikan Thoriqot As-Syahadatain pada tahun1947, beliau digambarkan sebagi pejuang dan Ulama yang kharismatik.
Gambaran mengenai riwayat hidup Abah Umar baik sebelum mendirikan Thoriqot dan sesudahnya dapat dipaparkan sebagai berikut :

MASA PENDIDIKAN

Sebelum mengawali kelana intelektualnya, Abah Umar mendapat pendidikan langsung dari ayahnya. Selain mendapatkan pelajaran keagamaan seperti membaca Al-Qur’an, hadits, fiqih, tauhid, nahwu, sharaf, mantiq, dan lainnya, Abah Umar juga memperoleh pendidikan pertanian dan bela diri.

Belum cukup dengan pendidikan yang diperoleh dari ayahnya, Abah Umar memulai pengembaraan pendidikannya ke Pondok Pesantren Ciwedus, Kuningan, Jawa Barat pada tahun 1903 M di bawah asuhan K.H. Ahmad Shobari yakni murid dari Mbah Kholil Bangkalan Madura selama dua tahun.

Abah Umar di Pesantren Ciwedus selalu hadir dalam pengajian yang disampaikan oleh K.H. Ahmad Shobari baik dalam pengajian kitab kuning maupun tausiyah.

Namun, beliau terlihat hanya tidur-tiduran bahkan pulas di samping sang kyai, sehingga para santri pun mencibir dan mencemooh.

Abah Umar menunjukkan khowariknya dengan mengingatkan Kyai Shobari jika salah dalam membaca kitab.

Begitu pun para santri yang sedang deres di kamar selalu diluruskan oleh beliau jika salah dalam membaca.

Dengan kejadian demikian para santri akhirnya memberikan hormat dan memuliakannya.

Dua tahun kemudian, Abah Umar pindah ke Pondok Pesantren Bobos, Palimanan di bawah didikan Kyai Sudjak.
Dari Pondok Bobos, selanjutnya Abah Umar belajar di Pondok Pesantren Buntet, Astanajapura, Cirebon pada tahun 1916 M yang diasuh oleh K.H. Abdul Jamil (hidup tahun 1842 – 1919 M) dan puteranya, K.H. Abbas bin K.H. Abdul Jamil (hidup tahun 1879 – 1945 M) sebagai kyai muda.

Setelah mengenyam pendidikan di Pesantren Buntet, Abah Umar melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Majalengka yang dipimpin oleh K.H. Anwar dan K.H. Abdul Halim.

Di Pondok Pesantren Majalengka ini, Abah Umar menimba ilmu selama lima tahun.

Tahun keenam, Abah Umar diangkat sebagai tenaga pengajar di madrasah oleh K.H. Abdul Halim.

K.H. Abdul Halim sebenarnya ialah senior Abah Umar ketika beliau mondok di Ciwedus. Di Pesantren Majalengka beliau seringkali terlibat dalam diskusi dengan para tokoh pesantren maupun para tokoh yang berada di persyarikatan Ulama.

Ada orang yang sangat berjasa yang telah membiayai Abah Umar selama menimba ilmu di pondok pesantren, yaitu K.H. Syamsuri dari Pesantren Wanantara, Cirebon.
K.H. Syamsuri yang biasa disebut juga dengan Mbah Syamsuri (hidup tahun 1872 – 1972 M) rutin mengirim beberapa karung beras dengan pedatinya ke pesantren di mana Abah Umar mengenyam pendidikan untuk biaya hidup selama di pondok pesantren.

MASA MENGAJAR dan BERDAKWAH

Setelah mengenyam pendidikan di berbagai pondok pesantren, Abah Umar kembali ke kampung halamannya.

Ketika pulang, beliau merasa miris melihat keadaan masyarakat yang terbiasa melakukan perbuatan maksiat, seperti berjudi, minum-minuman, dan lainnya, serta tidak terlepasnya masyarakat akan kepercayaan terhadap hal yang mistik seprti penyembahan terhadap leluhur dan nenek moyang.

Menyaksikan hal ini, Abah Umar merasa terpanggil untuk berdakwah dan menghidupkan kembali syariat Islam di kampungnya.

Abah Umar kemudian mendirikan sebuah jama'ah pengajian yang diadakan setiap malam Jum'at.

Awalnya pengajian ini mendapatkan tentangan keras, ejekan, dan cemoohan dari masyarakat.

Namun, beliau tetap semangat dalam menyebarkan kebenaran.

Lambat taun, pengajian Abah Umar semakin ramai didatangi oleh masyarakat yang ingin mengaji hingga memperoleh banyak jama'ah atau murid yang berasal dari berbagai daerah di sekitar Cirebon.

PROSES TERBENTUKNYA THORIKOT ASY-SYAHADATAIN

Seperti yang sempat diulas pada bagian masa mengajar dan berdakwah, sepulangnya Abah Umar dari belajarnya di pondok pesantren pada tahun 1923 beliau menyaksikan kemaksiatan tengah terjadi pada masyarakat di kampung halamannya.

Hal ini membuat Abah Umar memiliki niat untuk mengembalikan Akhlak masyarakat kepada syariat Islam.

Pada tahun 1937, Abah Umar mulai membuka pengajian di rumah beliau bersama istri beliau, Ummi Jamilah di Panguragan Wetan, Cirebon.

Namun, niat tulus Abah Umar menuai cibiran, ejekan, bahkan menganggapnya gila.

Bukannya hilang semangat, cibiran dan ejekan tersebut justru semakin menumbuhkan semangat menyebarkan syariat Islam.

Dari tahun ke tahun, pengajian yang diadakan oleh Abah Umar semakin memperoleh banyak murid.

Melihat aktivitas pengajian dan berkumpul di kediaman Abah Umar, pemerintah kolonial merasa curiga dan menganggap pengajian tersebut membahayakan kedudukan kolonial.

Maka, dengan tuduhan mengganggu stabilitas keamanan, Abah Umar ditangkap dan dipenjara pada tahun 1939 M.

Kejadian ini menjadikan jama'ah Abah Umar yang waktu itu didominasi oleh masyarakat Panguragan yang sudah menjadi pengikut setia beliau marah.
Akhirnya, jama'ah mengadakan gerilya dan menangkap siapa saja yang ditemui dan berhubungan dengan pemerintah kolonial Belanda.
Pemerintahan kolonial Belanda akhirnya merasa takut kepada para murid Abah Umar sehingga beliau dibebaskan dari penjara.
Pada tahun 1940 M, Abah Umar menjadikan kediamannya sebagai basis perjuangan, membuat perkembangan pengajiannya semakin ramai.
Anggota jama'ah yang mengikuti pengajian Abah Umar bukan hanya dari kalangan masyarakat Panguragan saja, akan tetapi dari luar kota juga, seperti Kuningan, Majalengka, dan Indramayu pun ikut bergabung dalam jama'ah beliau.

Perkembangan jama'ah yang semakin pesat ini membuat pemerintah kolonial Belanda geram, sehingga pada tanggal 24 Agustus 1940 M untuk kedua kalinya Abah Umar ditangkap dan pengajiannya ditutup dengan tuduhan yang sama, yakni mengganggu stabilitas keamanan dan tuduhan lainnya, yaitu menyebarkan ajaran sesat dan menyimpang.

Akhirnya, enam bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 20 Februari 1941 M Abah Umar dibebaskan dari penjara Keresidenan Cirebon.

Selepas keluarnya Abah Umar dari penjara yang kedua, Belanda berusaha membujuk beliau untuk bekerjasama, namun beliau tetap menolaknya. Oleh karena itu, pengawasan dan pendeskriditan Belanda kepada beliau semakin ketat.

Abah Umar tidak putus asa, beliau semakin merapatkan barisan dan mengadakan hubungan dengan para Alim Ulama guna menghimpun kekuatan untuk menentang Belanda di bawah naungan jama'ah yang beliau pimpin.

Di antara Ulama yang diajak kerjasama adalah Kyai Ahmad Sujak dari Bobos, K.H. Abdul Halim dari Majalengka, K.H. Mustofa dari Graksan, K.H. Ahmad Ridwan Yasin dari Wanantara, K.H. Anwar dari Cilimus, serta K.H. Zainal Asiqien dan Kyai Khozin dari Munjul Astanajapura.

Selanjutnya, ketika terjadi pendudukan Jepang di Indonesia, perlakuan Jepang terhadap jama'ah yang dipimpin Abah Umar juga tidak kalah kejamnya, karena dengan tegas Abah Umar dan jama'ahnya menentang Jepang, sehingga Jepang pun menangkap Abah Umar dan memasukkan beliau ke penjara pada 18 Juli 1943 M sampai dengan 25 April 1944 M.

Setelah kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1947 jama'ah Abah Umar secara resmi menamakan jama'ah pengajiannya dengan nama Thoriqot Syahadat Shalawat atau Jama'ah As-syahadatain.

Penamaan tersebut berkaitan dengan ajaran beliau yang menekankan tentang makna dua kalimat Syahadat dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Syahadat adalah dasar dan inti ajaran Islam yang justru banyak dilupakan oleh umat Islam.

Dinamakan juga dengan Thoriqot Syahadat Shalawat karena setiap selesai shalat fardhu, Abah Umar mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mengistiqomahkan membaca dua kalimat Syahadat dan diiringi dengan shalawat.

Bacaan Syahadat shalawat ini dibaca tiga kali (wa sallam- wa sallam- wa sallim). Demikianlah proses terbentuknya Thoriqot Asy-Syahadatain.

WAFATNYA ABAH UMAR

Pada tahun 1973, Masjid Abah Umar kedatangan khodim baru yang bernama Mar’i. Ia yang menjadi pelayan di dalam lotengnya Abah Umar.

Pada suatu hari dia mengambil pentungan kentong masjid dan memukul kepala Abah Umar sehingga beliau pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon.

Setelah beberapa bulan, beliau dipindahkan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Akhirnya tidak berselang lama, Abah Umar bin Ismail bin Yahya berpulang di RS Hasan Sadikin Bandung pada tanggal 20 Rajab 1393 H atau 19 Agustus 1973 M.

SISILAH SAYYIDI SYEHUNAL MUKAROMABAH UMAR
  1. Sayyidina Wamawlana Muhammad SAW.
  2. Sayyidina Fatimatuzahro
  3. Maulana Sayyidina Husein
  4. Imam Ali Zaenal Abidin
  5. Imam Muhammad Al-Bakir
  6. Imam Ja'far Shodik
  7. Imam Ali Al-Ariydho
  8. Imam Muhammad Annakib
  9. Imam Isya Annakib
  10. Imam Ahmad Al-Muhajir Ilallah
  11. Imam Ubaiydillah
  12. Sayyid Ali
  13. Sayyid Muhammad
  14. Sayyid Alwiy
  15. Sayyid Ali Khali qosam
  16. Sayyid Muhammad Shokhib Mirbath
  17. Sayyid Ali
  18. Sayyid Muhammad Al-Faqih Muqodam
  19. Sayyid Alwiy
  20. Sayyid Ali
  21. Sayyid Muhammad
  22. Sayyid Alwiy
  23. Sayyid Ali
  24. Sayyid Hasan
  25. Sayyid Yahya
  26. Sayyid Ahmad
  27. Sayyid Alwiy
  28. Sayyid Muhammad
  29. Sayyid Abdullah
  30. Sayyid Idrus
  31. Sayyid Ahmad
  32. Sayyid Syeh
  33. Sayyid Tohha
  34. Sayyid Syeh
  35. Sayyid Ahmad
  36. Sayyid Ismail
  37. Habibullah Abah Umar
Tidak ada yang mencintai kami ahlu bait kecuali orang yang beriman dan bertaqwa, dan tidak ada yang membenci kami kecuali orang munafik dan durhaka. 

CATATAN :
Di dunia ini dalam sejarah memiliki berbagai macam versi. walaupun setiap versi itu berbeda-beda jalan ceritanya, tetapi kalau kita cermati dari sekian banyak versi maka akan menemukan titik temunya. 

Maka dari itu, janganlah kita berdebat gara-gara perbedaan versi apalagi sampai adu keringat. Karena islam tidak mengajarkan kita untuk saling menjatuhkan dalam satu ikatan.


Kamis, 04 Juni 2020

TAHLIL

أَشْهَدُ أَنْ لاَّ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِه وَصَحْبِه وَسَلَّمَ   X٢   وَسَلِّمْ 

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ   X٣

Hadiah Fatihah ke 1 :
إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْـمُصْطَفَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِه وَأَصْحَابِه وَأَزْوَاجِه وَأَوْلَادِه وَذُرِّيَّتِه وَجَمِيْعِ اٰبَآئِه وَإِخْوَانِه مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْـمُرْسَلِيْـنَ وَاٰلِ كُلِّ وَّجَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ وَالتَّابِعِيْـنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْـنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ شَيْءٌ ِللهِ لَه وَلَهُنَّ وَلَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Hadiah Fatihah ke 2 :
ثُمَّ نَخُصُّ خَاصَّةً إِلَى حَضْرَةِ نَبِيِّ اللهِ خِضِرْ وَ نَبِيِّ اللهِ إِلْيَاس عَلَيْهِمَا السَّلَامُ ، الْفَاتِحَة

Hadiah Fatihah ke 3 :
ثُمَّ نَخُصُّ خَاصَّةً إِلَى حَضْرَةِ سَادَاتِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ ، سَيِّدِنَا حَسَن  وَ سَيِّدِنَا حُسَيْـن  و سَيِّدِيْ شَيْخُنَا الْـمُكَرَّم  وَأُصُوْلِهِمْ  وَفُرُوْعِهِمْ  وَحَوَاشِهِمْ  وَأَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ شَيْءٌ ِللهِ لَه وَلَهُنَّ  وَلَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Hadiah Fatihah ke 4 :
ثُمَّ نَخُصُّ خَاصَّةً إِلَى حَضْرَةِ إِمَامِنَا وَقُدْوَتِنَا وَمُرَبِّيْ أَرْوَاحِنَا وَكَعْبَةِ قُلُوْبِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا سَيِّدِيْ شَيْخُنَا الْـمُكَرَّم اَبَهْ عُمَر بِنْ اِسْمَاعِيْل بِنْ يَحْيَى وَأُصُوْلِه وَفُرُوْعِه وَحَوَاشِهِ وَأَهْلِ سِلْسِلَتِه وَالْأٰخِذِيْنَ مِنْهُ أَعَادَ الله عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَةِ عُلُوْمِه وَكَرَامَتِه وَشَفَاعَتِه فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْأٰخِرَةِ شَيْءٌ ِللهِ لَه وَلَهُنَّ وَلَهُمُ الْفَاتِحَةُ
Hadiah Fatihah ke 5 :
ثُمَّ إِلَى اَرْوََاحِ عَبْدِكَ الْفَقِيْرِ ....... بِنْ ....... / أَمَتِكَ الْفَقِيْرَةِ ....... بِنْتِ ....... وَ ... وَ ... وَ ...  وَأُصُوْلِهِمْ  وَفُرُوْعِهِمْ  وَحَوَاشِهِمْ  وَأَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ شَيْءٌ ِللهِ لَه وَلَهُنَّ  وَلَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Atau boleh juga memakai hadiah gabungan antara Maghrib - Isya.

أَفْضَلُ الدِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّه :
لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ (حَيٌّ مَوْجُوْدٌ)

لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ (حَيٌّ بَاقٍ لاَ يَمُوْتُ)

لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ (حَيٌّ مَقْصُوْدٌ - سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ ص . م)

لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ   X١١  -  X٢١  -  X٣٣  -  X١٠٠
Atau berapa saja.

لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ - لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ   X٢

لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ - سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ   X٧

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ - اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ   X٢

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ - يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ 

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِه - سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِه   X٧
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِه - سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ - أَسْتَغْفِرُ اللهَ   X٣
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّاٰلِهِ وَصَحْبِه وَسَلِّمْ   X٢
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِه وَأَصْحَابِه وَبَارِكْ وَسَلِّمْ أَجْمَعِيْـنَ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ   •  قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ   •   اَللهُ الصَّمَدُ   •   لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ   •   وَلَمْ يَكُنْ لَّه كُفُوًا أَحَدٌ   •   X٣
·          
لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ   •   قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ   •   مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ   •   وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ   •   وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِ   •   وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدٌ   •

لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ   •   قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ   •   مَلِكِ النَّاسِ   •   اِلٰهِ النَّاسِ   •   مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ   •   الَّذِيْ يُوَسْوِسُ  فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ   •   مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ   •

لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ   •   الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْـنَ   •   الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ   •   مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ   •   اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْـنُ   •   اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْـمُسْتَقِيْمَ   •   صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ لا غَيْرِ الْـمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْـنَ   •   رَبِّ اغْـفِـرْلِيْ وَلِوَالِدَايَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْـنَ  * آمِيْـن

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ   •   الم   •   ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لاَ رَيْبَ  * فِيْه * هُدًى لِّلْمُتَّقِيْـنَ   •   الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ   •   وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ج وَبِالاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ •   أُولٰئِكَ عَلَى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ لا وَاُولٰئِكَ هُمُ الْـمُفْلِحُوْنَ   • (البقرة  ١-٥)

وَإِلٰهُكُمْ اِلهٌ وَاحِدٌ ج لاَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ   •  (البقرة ١٦٣)

اَللهُ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ ج الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ج لاَ تَأْخُذُه سِنَةٌ وَّلاَ نَوْمٌ قلى لَه مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ قلى مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَه اِلاَّ بِاِذْنِه قلى يَعْلَمُ مَا بَيْـنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ج وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِه اِلاَّ بِمَا شَآءَ ج وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَاْلأَرْضَ ج وَلاَ يَئُوْدُه حِفْظُهُمَا ج وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ   (البقرة  ٢٥٥)

شَهِدَ اللهُ أَنَّه لاَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ لا وَالْـمَلٰئِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِمًا بِِالْقِسْطِ قلى لاَ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ   •   اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ قلى   (ال عمران  ١٨-١٩)

قُلِ اَللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْـمُلْكِ تُؤْتِى الْـمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْـمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ صلى وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ قلى بِيَدِكَ الْخَيْرُ قلى إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ   •   تُولِجُ اللَّيْلِ فِى النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِى اللَّيْلِ وَتَخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْـمَيِّتِ
وَتُخْرِجُ الْـمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ   •  (ال عمران  ٢٦-٢٧)

ِللهِ مََا فِي السَّمٰوٰتِ وَمَا فِِي الأَرْضِ قلى وَإِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْ اَنْفُسِكُمْ أَوْ يُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ قلى فَيَغْفِرُ لِـمَنْ يَّشَاءُ وَتُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاءُ قلى وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ   •   اٰمَنَ الرَّسُولُ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّه وَالْـمُؤْمِنُونَ قلى كُلٌّ اٰمَنَ بِاللهِ وَمَلٰئِكَتِه وَكُتُبِه وَرُسُلِه قلى لاَ نُفَرِّقُ بَيْـنَ أَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِه قلى وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْـمَصِيْرُ   •   لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا قلى لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ قلى رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْنَا ج رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَه عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ج رَبَّنَا وَلاَ تَحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِه ج [وَاعْفُ عَنَّا قلى وَاغْفِرْلَنَا قلى وَارْحَمْنَا قلى أَنْتَ مَوْلٰنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ   X٣]   •  (البقرة  ٢٨٤-٢٨٦)

KISAH SYAHATIL WUJUH


Diceritakan syahatil wujuh adalah salah satu doa Rosulullah saw yang biasa di baca untuk daf'il bala.
Rosulullah saw dan para sahabat-sahabatnya sering mengamalkan ketika perang dan pada saat genting. Tujuannya adalah untuk mengalahkan musuh-musuh agama Allah swt, dzohir maupun batin.

Catatan:
Di dunia ini dalam sejarah memiliki berbagai macam versi. walaupun setiap versi itu berbeda-beda jalan ceritanya, tetapi kalau kita cermati dari sekian banyak versi maka akan menemukan titik temunya. 
Maka dari itulah, janganlah kita berdebat gara-gara perbedaan versi apalagi sampai adu keringat. Karena islam tidak mengajarkan kita untuk saling menjatuhkan dalam satu ikatan.

Pada awal mula Syahatil ialah pada suatu ketika sebelum Rosulullah hijrah ke madinah, beberapa penduduk madinah telah memeluk agama islam, dan berita ini pun samapai ke makkah.
Tersebarnya berita beberapa kelompok penduduk madinah memeluk agama islam, sehinga membuat orang-orang kafir Quraisy meningkatkan tekanna terhadap orang-orang mukminin makkah.

Dalam upaya mnyelamatkan agama islam dari tekanan kafir Quraisy.
Rosulullah saw atas perintah Allah swt, untuk segera hijrah dari makkah ke madinah. Mamun sebelumya Rosulullah saw memerintahkan kaum mukminin agar hijrah terlebih dahulu ke madinah.
Para sahabat segera berangkat secara diam-diam agar tidak di hadang oleh musuh.

Menjelang Rosulullah saw hijrah, kaum kafir Quraisy telah merencanakan upayah jahat untuk membunuh beliau.
Ketika saatnya tiba pemuda-pemuda yang sudah di siapkam kafir Quraisy untuk membunuh Rosulullah saw di malam itu sudah mengepung rumah beliau.

Pada saat bersamaan, Rosulullah menyuruh 'Ali bin Abi Tholib untuk memakai jubahnya dan tidur di atas kasur beliau.

Rosulullah saw memerintahkan 'Ali supaya ia tinggal dulu di makkah untuk menyelesaikan berbagai keperluan dan amanat umat sebelum hijrah.

Para pemuda yang telah di siapa kan kafir Quraisy, mengintip tempat tidur Rosulullah saw dari sebuah celah.
Mereka melihat ada seseorang yang sedah ridur dan mereka pun puas bahwa orang yang mereka incar belum lari.

Ketika malam sudah larut Rosulullah saw keluar dari dalam rumah beluau sambil membaca:
"Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin 36 : 9)".

Kemudian beliau menaburkan pasir ke arah orang kafir yang mengepungnya. Ke depan, ke kanan, dan ke kiri sambil membaca SYAHATIL WUJUH 3X.

Rosulullah saw pun lolos dari penglihatan para pemuda tersebut dan menuju ke rumah Abu Bakar dan terus bertolak ke arah selatan, ke arah Yaman  menuju Goa Tsur.
Untuk mengelabuhi pemuda kafir Quraisy yang telah menutup semua jalur menuju madinah.
Rosulullah saw memutuskan menempuh jalur lain, rute yang berbeda, dari jalur yang biasa di gunakan penduduk makkah untuk menuju madinah. Beliau juga memutuskan berangkan pada waktu yang bukan biasa.


Para pemuda kafir Quraisy yang berencana akan menyerang Nabi saw, pun kemudian memasuki rumah beliau. Namun alangkah terkejutnya mereka karena ternyata beliau sudah tidak ada di tempat.
Mereka hanya mendapati 'Ali yang sedang tidur di atas tempat tidur beliau.

https://saptabarata.blogspot.com

ARTI DARI DO'A YAMAROJA



Sebagai pemeluk agama islam khususnya di Indonesia bagian Pulau Jawa tentunya tidak asing lagi dengan do'a YAMAROJA dari Syekh Subakir ini.

Inilah arti dari do'a YAMAROJA   Inilah arti dari do'a YAMAROJA

Sebab dan musabab do'a ini sangatlah panjang untuk diceritakan, tetapi disini saya cuma akan sedikit berbagi tentang arti dari do'a tersebut, sebagai berikut:

Yamaroja Yamaroja Jaromaya

Heh pangrencana, Mariya luwih
Siapa yang menyerang berbalik menjadi belas kasihan

Yamaroni Yamaroni Niromaya

Heh kang nekani, Ilanga kaluwihanira
Siapa yang datang dengan niat buruk akan malah menjauhinya

Yamidusa Yamidusa Sadumiya

Heh kang anyikara, mariya nangsaya
Siapa yang berbuat dosa berbalik berbuat jasa

Yamiduro Yamiduro Rodumiya

Heh kang aweh mlarat, anyukupana
Siapa memaksa, berbalik memberikan keleluasan dan kebebasan

Yasiyafa Yasiyafa Fayasiya

Heh kang duwe luwe, ameragana
Siapa yang membuat lapar berbalik memberikan makan 

Yasiyaro Yasiyaro Royasiya

Heh kang para cidra, kagel welasa
Siapa yang membuat celaka berbalik membuat sehat dan sejahtera

Yadayuni Yadayuni Niyudaya

Heh kang dadi ama, yogya asiha
Siapa yang membuat merusak berbalik membangun dan sayang

Yadayuda Yadayuda Dayudaya

Heh kang amerangi, laruta kuatira
Siapa yang memerangi berbalik menjadi damai

Hikmah bacaan Yamaroja

Dengan Izin Allah swt, Bacaan Yamaroja memiliki beberapa hikmah antar lain: 

  1. Menangkal segala serangan ilmu hitam.
  2. Menaklukan mahluk halus seperti Jin, Genderuwo dan lain-lain.
  3. Menjauhkan diri dari segala hal-hal buruk dan kejahatan.
  4. Menolak segala bala baik yang dikirimkan oleh orang lain atau pun hasil dari perbuatan sendiri.
  5. Menjauhkan segala kesialan dalam kehidupan dan membalikan segala keburukan      menjadi kebaikan.
  6. Membalikan niat jahat orang lain agar menjadi hal-hal yang baik.
  7. Menaklukan amarah musuh, dendam dan iri hati.
  8. Membuat pagar gaib rumah, toko dan lain-lain.
  9. Dan masih banyak lagi.
Itulah tadi tentang arti dari do'a yamaroja berikut hikmah yang terkansung didalamnya.
Tentang diatas hanyalah sebagai pembelajaran dan contoh saja, dan saya disini tidak memberikan izajah
.

Jika kita ingin mencari tau lebih dalam lagi tentang yamaroja, alangkah baiknya untuk
mencari pembimbing atau jika sudah ada pembimbing yang tepat kita bisa menanyakannya.

Catatan:
Janganlah mencoba sesuatu tanpa ada yang membimbing. Karena jika itu dikerjakan berdampak kurang baik.
Tentang diatas hanyalah contoh belaka dan tidak ada unsur-unsur ijazah.

https://saptabarata.blogspot.com/



Rabu, 03 Juni 2020

TEMPAT YANG ALLAH SEDIAKAN UNTUK PEMBENCI AHLUL BAIT ROSULULLAH SAW

Mencintai mereka adalah perintah Allah, membenci adalah sebuah pembangkangan pada Allah SWT.

Nabi SAW bersabda :
لَوْ أَنَّ رَجُلًا صَفَنَ بَيْنَ الرُّكْنِ، وَالْمَقَامِ وَصَلَّى وَصَامَ، وَهُوَ مُبْغِضٌ لِأَهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ النَّارَ
"Andaikan seseorang berdiri di antara Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam, shalat dan berpuasa, tapi ia membenci ahlul bait Muhammad saw, ia masuk neraka.”
حديث روية الحاكم فى المستدراك ١٦١ ، الطبراني فى المعجم الكبير حديث رقم ١١٤'١٢ من حديث عبد الله بن عباس
قال الحاكم :الحديث اتفاق بشرط مسلم
HR. Hakim dalam Al-Mustadrak (III/161), Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir, hadits nomor 11412, dari hadits Abdullah bin Abbas. Hakim berkata : “Hadits ini shahih, sesuai syarat Muslim.”
1. Allah swt marah kepada orang yang membenci ahlu bait.

a. Rasulullah saw bersabda :
… وهم عِتْرَتِي , خُلِقُوا مِنْ طِيْنَتِي , فَوَيْلٌ لِلْمُكَذِّبِيْنَ بِفَضْلِهِمْ , من احبهم احبه الله
ومن أبغضهم أبغضه الله
“… Mereka adalah keturunanku dan diciptakan dari tanahku. Celakalah dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka. Siapa yang mencintai mereka maka Allah akan mencintainya, siapa yang membenci mereka maka Allah akan membencinya”. ( Kanz al-Ummal (12/98)).
b. Rasulullah saw bersabda :
ألا و من ابغض آل محمد جاء يوم القيامة مكتوبا بين عينيه : آئس من رحمة الله
"Sungguh siapa yang membenci keluarga Muhammad saw, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dengan tulisan di antara kedua matanya : ‘orang ini telah terputus dari rahmat Allah swt’". ( Faraid al-Simthin (2/256)).
2. Orang yang membenci ahlu bait termasuk golongan munafik.

a. Rasulullah saw bersabda :
من أبغضنا أهل البيت فهو منافق
"Siapa orang yang membenci kami ahlu bait adalah termasuk golongan munafik." ( Al-Dur al-Mansur (7/349), Fadhail al-Sahabah (2/661)).
b. Rasulullah saw bersabda :
لا يحبنا أهل البيت الا مؤمن تقي , ولا يبغضنا الا منافق شقي
Tidak ada yang mencintai kami ahlu bait kecuali orang yang beriman dan bertaqwa, dan tidak ada yang membenci kami kecuali orang munafik dan durhaka." ( Dzakhair al-Uqba : 218, al-Showaiq al-Muhriqah : 230 )

c. Rasulullah saw bersabda :
من أبغض عترتي فهو ملعون و منافق خاسر
"Siapa yang membenci keturunanku, ia termasuk orang yang dilaknat dan munafik yang merugi." ( Jami’ al-Akhbar : 214 ).
3. Orang yang membenci ahlu bait termasuk golongan kafir.
Rasulullah saw bersabda :
ألا ومن مات على بغض آل محمد مات كافرا , ألا ومن مات على بغض آل محمد
لم يشمّ رائحة الجنّة
Sungguh siapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad saw, maka ia mati dalam keadaan kafir. Sungguh siapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad saw, maka ia tidak akan mencium harumnya surga." ( [6] Al-Kasyaf (3/403)).
4. Orang yang membenci ahlu bait termasuk golongan Yahudi.
Dari Jabir bin Abdillah al-Anshari, Rasulullah saw bersabda :
أيّها الناس , من أبغضنا اهل البيت حشره الله يوم القيامة يهوديا. يارسول الله , وإن صام
وصلّى ؟ قال : وإن صام و صلّى
"Wahai manusia, siapa saja yang membenci kami ahlu bait, maka Allah swt akan mengumpulkannya di hari kiamat dalam golongan orang-orang Yahudi. Jabir berkata : 'Ya Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang berpuasa dan mengerjakan shalat'. Rasul menjawab : 'Walaupun mereka berpuasa dan mengerjakan shalat'" ( [7] Al-Mu’jam al-Ausath (4/212)).
5. Orang yang membenci ahlu bait masuk neraka.
a. Rasulullah saw bersabda :
والّذي نفسي بيده , لا يبغضنا اهل البيت احد الا أدخله الله النار
"Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, Tidaklah seorang yang membenci kami ahlu bait kecuali Allah swt akan masukkan ia ke dalam neraka." ( Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain (3/162), al-Dur al-Mansur (7/349)).
b. Rasulullah saw bersabda :
والّذي نفسي بيده , لا يبغضنا اهل البيت احد الا أكبّه الله النار
"Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, Tidaklah seorang yang membenci kami ahlu bait kecuali Allah swt akan masukkan ia ke dalam neraka". ( [9] Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain (4/392), Majma’ al-Zawaid (7/580)).
c. Rasulullah saw bersabda :
… فَلَوْ اَنَّ رَجُلاً صفَنَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالمَقَامِ, وَصَلَّى وَصَا
مَ, ثُمَّ لقي الله , وَهُوَ مُبْغِضٌ
لاِهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ دَخَلَ النَّارَ .
“… Maka sekiranya seseorang berdiri di antara salah satu sudut Ka’bah dan maqam Ibrahim, lalu ia shalat dan puasa, kemudian meninggal sedangkan ia adalah pembenci keluarga (ahlu al-bait) Muhammad, pasti ia masuk neraka”. ( Al-Mu’jam al-Kabir (11/142), al-Mustadrak ‘Ala Shahihain (3/161)).
d. Rasulullah saw bersabda :
لا يبغضنا ولا يحسدنا احد الا ذيد يوم القيامة بسياط من النار
Tidak seorang pun yang membenci dan hasud kepada kami (ahlu bait) kecuali Allah swt akan mengusirnya di hari kiamat dengan cambuk yang berasal dari api neraka.
Al-Mu’jam al-Kabir (3/81)
6. Allah swt sangat murka kepada umatnya yang menyakiti ahlu bait.
a. Rasulullah saw bersabda :
إشتدّ غضب الله على من آذاني في عترتي
"Allah swt sangat murka kepada orang yang menggangguku melalui keturunanku". ( [12] Ihya al-Mait al-Suyuthi : 53 ).
b. Rasulullah saw bersabda :
إشتدّ غضب الله وغضبي على من أهرق دمي و آذاني في عترتي
"Allah swt dan aku sangat murka kepada orang yang menumpahkan darahku dan menyakitiku melalui keturunanku". ( Dzakhoir al-Uqba : 39 ) 

c. Rasulullah saw bersabda :
من سبّ اهل بيتي فأنا بريء منه
Siapa yang mencela ahlu baitku, maka aku berlepas diri darinya". ( Yanabi’ al-Mawaddah (2/378)).
d. Rasulullah saw bersabda :
من آذاني في اهلي فقد آذى الله
"Siapa yang menyakitiku dalam urusan keluargaku, maka ia telah menyakiti Allah". ( [15] Kanz al-Ummal (12/103)).
e. Rasulullah saw bersabda :
إنّ الله تعالى يبغض الآكل فوق شبعه , والغافل عن طاعة ربه , والتارك سنّة نبيه , والمخفر ذمّته , والمبغض عترة نبيه , والمؤذي جيرانه .
‘Sesungguhnya Allah swt membenci orang yang makan di atas batas kekenyangannya, orang yang lali dari melaksanakan ketaatan kepada Tuhannya, orang yang mencampakkan sunnah nabinya, orang yang menremehkan tanggungjawabnya, orang yang membenci ithroh (keturunan) nabinya dan mengganggu tetangganya’. (Ihya al-Mait : 53).
7. Allah swt mengharamkan surga kepada orang yang menzhalimi ahlu bait.
a. Rasulullah saw bersabda :
إنّ الله حرّم الجنة على من ظلم اهل بيتي
Sesungguhnya Allah swt mengharamkan surga kepada orang yang menzhalimi ahlu baitku". (Dzakhoir al-Uqba : 20).
b. Rasulullah saw bersabda :
حرّمت الجنة على من ظلم اهل بيتي و آذاني في عترتي
Surga diharamkan bagi siapa saja yang menzhalimi ahlu baitku dan menyakiti aku melalui keturunanku." ( Tafsir al-Qurthubi (16/22)).
c. Rasulullah saw bersabda :
الويل لظالمي اهل بيتي , عذابهم مع المنافقين في الدرك الأسفل من النار
Celakalah siapa saja yang menzhalimi ahlu baitku, mereka akan diadzab bersama orang-orang munafiq di dasar neraka". (Yanabi’ al-Mawaddah (2/326)).
Menyampaikan ajaran yang benar adalah kewajiban, bukan karena ingin mencari belas kasih manusia.

Mengingat cinta dzurriyah adalah bagian dari agama maka wajib bagi setiap muslim menyampaikan pesan Nabi terkait Ahlul bait, dan bagi dzurriyah harus lebih semangat meneladani Rasulullah SAW.

Cinta adalah modal seorang muslim untuk menggapai syafaat Nabi SAW, adapun kebencian akan menghalangi syafaat Beliau SAW.

Semoga apa yang telah kita bahas diatas menjadi pelajaran kita untuk memperbaiki diri lebih baik lagi, dan janganlah kita merasa bosan untuk selalu meminta hidayah dari Allah swt. Sebab tanpa hidayah dari-Nya, kita tidak akan pernah tau sesuatu itu benar apa salah.

Semoga Allah swt selalu memberikan ridho kepada kita yang sedang belajar memperbaiki diri..Aamiin