Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2013

MACAM-MACAM ILMU DALAM AGAMA ISLAM


ILMU SYAHADAT

Sumber dari segala ilmu agama yaitu ilmu yang mempelajari syarat, rukun, batal, dll dari syahadatain dan menjadi tolok ukur aqidah islam serta jembatan untuk mengenal seluruh ilmu-ilmu agama.
Kitab : Al-Aurad.

ILMU TAUHID / ILMU AQIDAH

Ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang sifat – sifat allah swt dan sifat – sifat para utusanya yang terdiri dari sifat yang wajib, sifat jaiz dan sifat yang mustahil. selain dari itu juga menerangkan segala yang memungkinkan dan dapat diterima oleh akal, untuk menjadikan bukti dan dalil, dengan dibantu oleh masalah sam’iyat agar dapat mempercayai dalil itu dengan yakin tanpa keraguan di hati.
Kitab : Aqidatul awwam, Jauhar Tauhid, Sifat 20, Addurunnaifs (Permata Yang Indah) dll.

ILMU TASAWUF

Ilmu yang mempelajari cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Secara umum terbagi 4 tingkatan yaitu syari’at berkenaan dengan hukum dan tata cara beribadah kepada Allah SWT, thoriqot berkenaan dengan jalan yang ditempuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, haqiqot berkenaan dengan hasil kebenaran yang sesungguhnya setelah menjalankan thoriqot, ma’rifat berkenaan dengan mengenal dan berhadap-hadapan langsung dengan Allah SWT tanpa hijab atau tirai.

ILMU AL-QURAN/ULUMUL QURAN

Secara etimologi, kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jama’ dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnaya. Dengan demikian, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu rasmil Qur’an, ilmu I’jazil Qur’an, ilmu asbabun nuzul, dan ilmu-ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an menjadi bagian dari ulumul Qur’an.
lmu yang membahas tentang keadaan Al-Qur’an dari segi turunya, sanadnya, adabnya makna-maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya.

ILMU AKHLAQ

Ilmu akhlak adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia agar mempunyai adab dan sopan santun dalam pergaulan baik pergaulan sesama manusia maupun dengan Sang Pencipta. Kita dibina untuk mengetahui peraturan dan prosedur yang sesuai agar tidak bertindak sesuka hati. Bila kita mampu mengimplementasikan ilmu ini maka pergaulan akan menjadi indah dan sangat disayang baik oleh manusia, hewan maupun Sang Pencipta seperti akhlak Nabi Muhammad SAW. Nabi sendiri diutus, yang pertama tugasnya adalah memperbaiki akhlak manusia yang saat itu semua menjurus akhlak Jahiliyah.
Kitab : Akhlaqul Libanin.

ILMU HADITS

Ilmu Hadis atau yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadits yang mengandung dua kata, yaitu ‘ulum’ dan ‘al-Hadis’. Kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadis dari segi bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Kitab : Fathul Bari, Subulus Salam, Bulughul Maram dll.

ILMU USHUL FIQIH

Kata ushul fiqh adalah kata ganda yang berasal dari kata “ushul” dan “fiqh” yang secara etimologi mempunyai arti “faham yang mendalam”. Sedangkan ushul fiqh dalam definisinya secara termologi adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang membawa kepada usaha merumuskan hukum-hukum syara’ dari dalil-dalinya yang terperinci. Kitab : Al-Ushul min Ilmil Ushul.

ILMU FIQIH

Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).
Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.
Kitab : Kifayatul Akhyar, Safinatun Najah.

ILMU FARAIDH

Faroidh adalah bentuk kata jamak dari kata faridhoh. Sedangkan Faridhoh diambil dari kata fardh yang artinya taqdir (ketentuan). Ilmu Faraidh merupakan bagian dari Ilmu Fiqih yaitu Ilmu yang Membahas hukum-hukum waris dan ketentua-ketentuan serta pembagian-pembagiannya.
Kitab : Matan Ar-Rahbiyah.


ILMU TAJWID

Pengertian Tajwid menurut bahasa (ethimologi) adalah: memperindah sesuatu.Sedangkan menurut istilah, Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca Al-Quran dengan sebaik-baiknya. Tujuan ilmu tajwid adalah memelihara bacaan Al-Quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca. Belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardlu kifayah, sedang membaca Al-Quran dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid) itu hukumnya Fardlu ‘Ain. Kitab : Tuhfatul Athfal, Hidayatul Mustafid dll.

ILMU SIRAH / TARIKH

Ilmu yang mempelajari tentang sejarah Islam.

ILMU BALAGHOH

Ilmu cara berdialog dengan orang lain.

ILMU FALAQ

Ilmu yang mempelajari cara mencari arah kiblat, menentukan waktu sholat dan awal bulan. Di dalamnya dipelajari juga ilmu berhitung dan ilmu tentang alam.

12 FAN/MACAM ILMU ALAT

Dalam dunia Pesantren, khususnya Pesantren Salaf (baca:Tradisional), keilmuan seseorang sudah bisa dikatakan mapan ketika dia sudah mempelajari 12 bidang ilmu. Memang satu pesantren dengan yang lainnya kadang berbeda dalam mendefinisikan 12 tersebut. Ilmu Alat adalah ilmu untuk mengetahui cara membaca arab gundul atau kitab gundul (huruf yang tanpa fathah, dhomah kasarah dan tanda baca lainnya). 12 nama ilmu tersebut antara lain :

1. Shorfun = Shorof

Ilmu ini membahas tentang morfologi suatu kalimah (kata) dalam bahasa arab. Perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain untuk menghasilkan ma’na yang dimaksud. Contoh dari Fi’il (kata kerja) Madli ke bentuk Fi’il Mudlori’, Mashdar (kata benda), Isim Fa’il (pelaku), Isim Maf’ul (kata benda objek), dan lainnya. Kitab : Matan Bina, Kailany, Fathul Khobirul Latif, Nadhm Maqshud, dan Lamiyatul Af’al.

2. Nahwu = Nahwu

Ilmu ini membahas gramatikal bahasa arab seperti bagaimana status jabatan kalimah (kata) dalam suatu kalam (kalimat). Apakah dia menjadi Fa’il (pelaku/subjek), Maf’ul (objek), Na’at (sifat), dan lainnya. Seperti halnya ilmu Ma’ani, ilmu ini otomatis membahas keterkaitan suatu kalimah dengan kalimah yang lainnya. Contohnya lafadh Ar Rohman pada bacaan basmalah adalah Na’at dari lafadh Jalalah (Allah). Kitab : Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah dll.

3. Khottun = Khot

Tulisan bahasa arab pun ada tata cara penulisannya. Nah, tata cara penulisan tersebut menjadi kajian ilmu ini. Dalam bahasa arab ada standar tujuh jenis tulisan, yaitu Naskhi, Kufi, Tsulusi, Riq’ah, Diwani, Diwani Jali, dan Farisi.

4. ‘Arudl = ‘Arudl

Nah, tadi kita sedikit menyinggung masalah bahar. Dalam ilmu inilah istilah Bahar itu dipelajari. Bagaimana suatu nadhm bisa disusun dengan menggunakan enam belas bahar yang sudah ada. Kitab : Mukhtashor Syafi.

5. Bayanun = Bayan

Lebih sukar dari ilmu Shorof, ilmu ini membahas tentang majas dan perumpaman dalam bahasa arab. Seperti halnya ilmu Shorof, ilmu ini juga hanya membahas satu kalimah (kata) tanpa melihat hubungannya dengan kalimah yang lain.

6. Ma’ani = Ma’ani

Mirip dengan ilmu Bayan, ilmu ini juga terasa lebih sukar (memang semuanya sukar ). Pembahasan ilmu ini lebih ke penambahan ma’na yang timbul karena terjadi perubahan susunan kalimah bahasa arab. Jadi, ilmu ini tidak hanya membahas satu kalimah saja, tapi melihat hubungannya dengan kalimah yang lain.

7. Qofiyatun = Qofiyah

Fan (ilmu) ini mengatur bagaimana ujung satar awal harus sama dengan ujung satar tsani dalam suatu bait. Satar adalah potongan setengah bait dari suaatu nadhm. Misalnya kita punya suatu Nadhm Al Hamdulillahil ladzi qod waffaqo # Lil ‘ilmi khoiro kholqihi wa lit tuqo Dari bait di atas, satu satar adalah dari Al Hamdulillah sampai waffaqo. Yang saya contohkan adalah Bahar Rojaz dimana satar awal harus sama rimanya dengan satar Tsani. Tapi, di bahar yang lain ketentuan itu berbeda.

8. Syi’run = Syi’ir

Ilmu ini membahas tentang bagaiman cara membuat suatu Syi’iran tentunya dalam bahasa arab.

9. Isytiqoqun = Isytiqoq

Pencetakan suatu lafadh dari lafadh yang lain adalah objek kajian ilmu ini. Jika kita ingin tahu, sebenarnya lafadh Allah-pun dicetak dari lafadh Ilahun setelah melalui perubahan-perubahan. Demikian pula dengan lafadh-lafadh yang lain.

10. Insyaau = Insya

Ilmu ini membahas bagaimana membuat suatu kalam (kalimat) yang benar dalam bahasa arab. Biasanya latihan ilmu ini adalah dengan menyusun kalam dari runtutan kalimah yang sembarang.

11. Munadhoroh = Munadhoroh

Kadang kala kita perlu ber-Munadhoroh (argumen) dengan pendapat orang lain. Nah, supaya argumen yang diungkapkan sesuai dengan aturan, dibuatlah ilmu ini.

12. Lughot = Lughot

Ilmu ini membahas tentang mufrodat (kosa kata) dalam bahasa Arab. Semisal vocabulary dalam bahasa Inggris.

Selasa, 11 September 2012

PERAN WALISONGO DALAM PENYEBARAN ISLAM DI JAWA DAN GENERASI PENERUSNYA



oleh : Achamad Fahrizal Zulfani (Mahasiswa Fak.Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam penyiaran dan penyebaran agama Islam di Jawa pada zaman dahulu dipelopori oleh para mubaligh Islam yang lebih dikenal dengan sebutan “Wali”. Adapun para wali ini jumlahnya ada sembilan yang dianggap merupakan kepala kelompok dari sejumlah mubaligh-mubaligh Islam yang bertugas mengadakan operasi di daerah-daerah yang belum memeluk agama Islam . Konsep ''dewan wali'' berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin. Dewa Kuwera bertahta di utara, Isana di timur laut. Indra di timur, Agni di tenggara, dan Kama di selatan. Dewa Surya berkedudukan di barat daya, Yama di barat, Bayu, atawa Nayu, di barat laut, dan Siwa di tengah. Para wali diakui sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Mereka ulama besar yang menyemaikan benih Islam di Jawadwipa. Figur para wali --sebagaimana dikisahkan dalam babad dan ''kepustakaan'' tutur-- selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ''kesepakatan'' tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.
Umumnya kita mengenal wali hanyalah sembilan orang yaitu : Syeikh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijogo, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Maka dari itu kita sering menyebutnya dengan nama “Walisongo”.
Sebenarnya Walisongo adalah nama suatu dewan da’wah atau dewan mubaligh. Apabila ada salah seorang wali tersebut pergi atau wafat maka akan segera diganti oleh wali lainnya.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Mengenai nama-nama asli walisongo - kecuali Maulana Malik Ibrahim – hingga kini masih terdapat sedikit perbedaan. Hal itu dapat dimaklumi karena mereka pada umumnya tidak meninggalkan sumber rujukan. Adapun nama-nama yang didahului dengan sebutan “Sunan” semuanya berasal dari kata “Susuhunan” yang bermakna “yang mulia”. Demikian pula “Maulana” yang bermakna “pemimpin kita”. Semua nama julukan tersebut diberikan masyarakat Muslim Jawa pada masa dahulu karena ketika itu mereka belum mengenal dengan sebutan “Sayyid, Habib, dan Syarif “ yang lazim digunakan untuk menyebut nama-nama keturunan Ahlu Bait Rosululloh SAW.
Menurut berbagai penyelidikan, agama Islam tersiar ke seluruh Tanah Jawa dan Nusantara ini dengan Jalan damai karena dengan berbagai hal yaitu :
• Para penyiar agama Islam yang datang mula-mula adalah para pedagang, ahli Sufi, dan para Wali.
• Para mubaligh itu menggunakan metode dakwah yang tepat sasaran yaitu sebagaimana tersebut dalam Al Qur'an yang berbunyi " Hendaklah engkau ajak orang ke Jalan Alloh dengan hikmah (kebijaksanaan), dengan peringatan-peringatan yang ramah serta bertukar fikiran dengan mereka, dengan cara yang sebaik-baiknya". (QS. An- Nahl : 125).
• Para mubaligh Islam tersebut dapat menyelami dan memahami watak dan jiwa bangsa Indonesia.
• Sifat toleransi dari bangsa Indonesia itu sedikit yang dapat menerima setiap yang datang dari luar kemudian disesuaikan dengan kepribadian sendiri.
• Penyiaran Islam di Jawa sebagian besar melalui saluran tasawuf.
• Dengan cara mengawinkan kepercayaan lama dengan kepercayaan baru inilah yang menyebabkan agama Islam dapat tersiar dengan damai.
Seperti tersebut dalam kitab Kanzul Ulum Ibnu Bathtutah yang penulisannya dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi, walisongo melakukan sidang tiga kali yaitu : 
 Tahun 1404 M adalah sembilan wali.
 Tahun 1438 M masuk tiga wali mengganti yang wafat.
 Tahun 1463 M masuk empat wali mengganti yang wafat dan pergi.
1. Walisongo Periode Pertama
Pada waktu Sultan Muhammad I memerintah Turki, beliau menanyakan perkemabangan agama Islam kepada para pedagang dari Gujarat (India). Dari mereka Sultan mendapat kabar berita bahwa di pulau Jawa ada dua kerajaan Hindu yaitu, Padjajaran dan Mojopahit. Diantara rakyatnya ada yang beragama Islam tapi hanya terbatas pada keluarga para pedagang Gujarat yang nikah dengan para penduduk pribumi di kota-kota pelabuhan. 
Sang Sultan kemudian mengirim surat kepada para pembesar Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta para Ulama’ yang memiliki karomah untuk dikirim ke Pulau Jawa. Maka terkumpullah para Ulama’ yang berjumlah sembilan orang dan memiliki karomah.
Pada tahun 1404 M para Ulama’ itu berangkat ke Pulau Jawa, mereka adalah : 
1) Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki ahli mengatur negara . berdakwah di Jawa Timur. Wafat di Gersik pada tahun 1419 M.
2) Maulana Ishaq, berasal dari Samarkan (Rusia Selatan) ahli pengobatan. Tetapi beliau tidak menetap di Jawa. Beliau pindah ke Pasai dan wafat disana.
3) Maulana Ahmad Jumadil Kubro, berasal dari Mesir. Beliau berdakwah keliling. Makamnya di Troloyo Trowulan Jawa Timur.
4) Maulana Ahmad Al Maghrobi, berasal dari Maghrib (Maroko). Beliau berdakwah keliling. Wafat tahun 1465 M. makamnya di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.
5) Maulana Malik Isro’il, berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Wafat tahun 1435 M. makamnya di Gunung Santri, Cilegon, Jawa Barat.
6) Maulana Muhammad Ali Akbar, bersal dari Persia (Iran). Ahli pengobatan. Wafat tahun 1435 M. makamnya di Gunung Santri, Cilegon, Jawa Barat.
7) Maulana Hasanuddin, berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat tahun 1462 M. Makamnya disamping Masjid Banten Lama.
8) Maulana Aliyyuddin, berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat tahun 1462 M Makamnya disamping Masjid Banten Lama.
9) Syekh Subakir, berasal dari Palestina, ahli menumbali tanah angker yang di huni Jin-jin jahat tukang menyesatkan manusia. Setelah banyak tempat yang ditumbali, maka Syekh Subakir kembali ke Persia pada tahun 1462 M dan wafat disana.
2. Walisongo Periode Kedua
Pada periode kedua ini masuklah tiga orang wali menggantikan tiga wali yang wafat. Ketiganya adalah :
1) Raden Ahmad Ali Rahmatulloh (Sunan Ampel), datang ke Jawa pada tahun 1421 M. menggantikan Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M. Raden Rahmat berasal dari Cempa.
2) Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus), berasal dari Palestina, datang di Jawa pada tahun 1436 M. menggantikan Maulana Malik Isro’il yang wafat tahun 1435 M. 
3) Syarif Hidayatulloh, berasal dari Palestina Datang di Jawa pada tahun 1436 M. menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar yang wafat tahun 1435 M.
Sidang kedua ini diadakan di Ampel Surabya. Para wali kemudian membagi tugas, Raden Rahmat, Maulana Ishaq, dan Maulana Jumadil Kubro bertugas di Jawa Timur. Sunan Kudus, Syekh Subakir, dan Maulana Al Maghrobi bertugas di Jawa Tengah. Syarif Hidayatulloh, Maulana Hasanuddin, dan Maulana Aliyyuddin bertugas di Jawa Barat.
3. Walisongo Periode Ketiga
Pada tahun 1463 M. masuklah empat Wali menjadi anggota Walisongo yaitu :
1) Raden Paku (Sunan Giri) kelahiran Blambangan, Jawa Timur. Putra dari Maulana Ishaq dengan putri Raja Blambangan. Beliau menggantikan ayahnya yang telah pindah ke Pasai.
Makamnya terletak di Gresik Jawa Timur.
2) Raden Said (Sunan Kalijogo) kelahiran Tuban, Jawa Timur. Beliau adalah putra Adipati Wilatikta yang berkedudukan di Tuban. Beliau menggantikan Syekh Subakir yang kembali ke Persia.
3) Raden Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang). Beliau adalah putra Sunan Ampel. Menggantikan Maulana Hasanuddin yang wafat tahun 1462 M.
4) Raden Qosim (Sunan Drajat). Beliau adalah putra Sunan Ampel. Menggantikan Maulana Aliyyuddin yang wafat tahun 1462.
Sidang Walisongo yang ketiga ini berlangsung di Ampel Surabya. Dan setelah sidang ini, kemudian diadakan sidang tambahan pada tahun 1466 M untuk menggantikan Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Al Maghrobi yang telah wafat. Mereka adalah : Raden Patah putra Prabu Brawijaya V dan Fathulloh Khan putra Sunan Gunung Jati. Dan masuklah juga Raden Umar Said putra Sunan Kalijogo menjadi anggota Walisongo.
Konon Syekh Siti Jenar juga termasuk anggota Walisongo. Namun karena mengajarkan ajaran sesat maka beliau dihukum mati. Selanjutnya, beliau digantikan oleh Sunan Tembayat murid dari Sunan Kalijogo. 

Bibliografi 
Asnan Wahyudi,Abu Khalid,Kisah Wali Songo Para Penyebar Agama Islam Di Tanah Jawa, Surabaya: Karya Ilmu,tt
Solichin Salam,Sekitar Walisanga,Kudus: Menara Kudus,1960
Al Hamid Al Husaini,Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah,Bandung: Pustaka Hidayah,cet II.1997
Umar Hasyim,Sunan Muria Antara Fakta Dan Legenda,Kudus: Menara Kudus,1983