Nasab ahli bait/ahlul bait merupakan nasab yang mulia,
karena mereka terlahir dari keturunan orang-orang pilihan, manusia terbaik yang
ada di muka bumi. Namun kemuliaan nasab ini janganlah membuat kita lupa daratan
kepada mereka, semisal terlalu berlebihan alias ghuluw atau menganggap mereka
ma’shum dari dosa, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya bagaimana loyalitas yang
benar terhadap ahli bait, cermati pembahasan berikut ini. Allahul Muwaffiq.
SIAPAKAH AHLI BAIT?
Telah terjadi silang pendapat di kalangan ulama tentang siapakah ahli bait
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pendapat yang shahih dari para ulama
ahlussunah waljamaah, ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang
diharamkan bagi mereka shodaqoh. Mereka adalah istri-istri Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan keturunannya, serta seluruh kaum muslimin dan muslimah
dari keturunan Abdul Muthalib dan keturunan Bani Hasyim bin Abd Manaf, Allahu
a’lam
Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata : “Telah terlahir
Syaibah untuk Hasyim bin Abd Manaf dan dia adalah Abdul Muthalib, pada
dirinyalah patokan kemuliaan. Tidak tersisa keturunan dari Bani Hasyim kecuali
dari Abdul Mutholib saja” [Jamharoh Ansab Al-Arob hal. 14] [1]
KEUTAMAAN AHLI BAIT [2]
[1]. Allah Telah Menyucikan Mereka
Imam Muslim telah meriwayatkan dari jalan Aisyah
Radhiyallahu ‘anha. Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar,
kemudian datang Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma dan memasukkannya
bersamanya, kemudian datang Husain dan beliau memasukkanya pula, kemudian
datang Fathimah Radhiyallahu ‘anhuma dan beliau memasukkan bersamanya, kemudian
datang Ali Radiyallahu ‘anhuma dan beliau memasukkannya pula, kemudian beliau
membaca ayat.
“Artinya : … Sesungguhnya Allah bermaksud untuk
menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya” [Al-Ahzab : 33]
[2]. Pilihan Allah
Nasab ahlul bait merupakan nasab yang paling mulia, karena dari keturunan
orang-orang pilihan. Cermatilah hadits berikut.
“Artinya : Dari Watsilah bin Asyqo Radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku
mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya
Allah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il dan Allah memilih Quraisy dari
keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku
dari keturunan Bani Hasyim” [HR Muslim : 2276]
[3]. Berhak Mendapat Seperlima Harta Ghonimah Dan Harta Fa’i[3]
Allah berfirman.
“Artinya : Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai
rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul,
anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil” [Al-Anfal : 41]
Firman Allah tentang harta fa’i.
“Artinya : Apa saja harta rampasan fa’i yang diberikan Allah kepada rasul-Nya
yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, rosul, kerabat
rosul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam
perjalanan…[Al-Hasyr : 7]
[4]. Tidak Halal Menerima Shadaqah
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwasanya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya shadaqah itu tidak pantas bagi keluarga Muhammad,
hanyalah shadaqah itu untuk orang-orang yang kotor”[4] [HR Muslim : 1072]
[5]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Berwasiat Kepada Mereka
Imam Muslim telah meriwayatkan dari jalan Yazid bin Hayyan dia berkata : Aku
pernah pergi bersama Husain bin Sabroh dan Umar bin Muslim menuju rumah Zaid
bin Arqom Radhiyallahu ‘anhu. Tatkala kami telah duduk di sisinya, Husain
berkata : “Wahai Zaid, sungguh engkau telah meraih kebaikan yang banyak, engkau
telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar hadits-hadits
beliau, pernah berperang bersama beliau, dan shalat dibelakang beliau. Sungguh
engkau telah meraih kebaikan yang banyak, ceritakanlah kami hadits Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam wahai Zaid!”. Zaid Radhiyallahu ‘anhu menjawab :
“Wahai anak saudaraku, demi Allah aku sekarang sudah tua, masaku telah lewat,
aku pun telah lupa sebagian yang aku hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaih
wa sallam maka apa yang aku ceritakan kepadamu terimalah, dan apa yang tidak
aku ceritakan maka janganlah kalian mebebaniku”. Kemudian Zaid berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di hadapan kami pada
suatu hari, beliau memuji Allah, menasehati, dan setelah itu beliau bersabda :
“Ketahuilah wahai sekalian manusia, aku hanyalah manusia biasa, hampir datang
seorang utusan Rabbku dan aku akan memenuhinya, aku tinggalkan kalian dua pedoman,
yang pertama Kitabullah, didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambilah
Kitabullah itu, berpegang teguhlah. Lalu beliau melanjutkan : “Dan terhadap
ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku”, beliau
mengulang ucapannya sampai tiga kali”. Husain berkata : “Siapa ahli bait Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Zaid? Bukankah istri-istrinya termasuk
ahli baitnya?” Zaid Radhiyallahu ‘anhu menjawab : “Ya, istri-istri beliau
termasuk ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ahli baitnya
adalah orang-orang yang haram menerima shadaqah setelahnya” [HR Muslim : 2408]
[6]. Nasab Mereka Tidak Terputus Hingga Hari Kiamat
Berdasarkan hadits:
“Artinya : Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari Kiamat kecuali sebabku
dan nasabku” [HR Thobari dalam Mu’jam Kabir 3/129/1, Harowi dalam Dzammul Kalam
2/108. Syaikh Al-Albani berkata dalam Ash-Shohihah 5/64 : Kesimpulannya, hadits
ini dengan keseluruhan jalan-jalannya adalah shahih] [5]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Tidak perlu diragukan wasiat untuk
berbuat baik kepada ahli bait dan pengagungan kepada mereka, karena mereka dari
keturunan yang suci, terlahir dari rumah yang paling mulia di muka bumi ini
secara kebanggaan dan nasab. Lebih-lebih apabila mereka mengikuti sunnah
nabawiyyah yang shahih, yang jelas, sebagaimana yang tercermin pada pendahulu
mereka seperti Al-Abbas dan keturunannya, Ali dan keluarga serta keturunannya,
semoga Allah meridhoi mereka semua” [Tafsir Ibnu Katsir 4/113]
[Disalin dari Majalan Al-Furqon Edisi 08 Tahun VI/Robi’ul Awal 1428 [April
2007]. Rubrik Tazkiyatun Nufus. Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon,
Alamat Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
__________
Foote Note
[1]. Lihat dalil-dali masalah ini dalam Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihin
inda Ahlus Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd
Al-Abbad.
[2]. Ulama Ahlus Sunnah telah sepakat akan keutamaan ahli bait dan dibencinya
mencela mereka, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ali Al-Qari dalam Syarh
Al-Misykah 5/602
[3]. Yang dimaksud dengan rampasan perang (ghonimah) ialah harta yang diperoleh
dari orang-orang kafir dengan melalui pertempuran, sedang yang diperoleh tidak
dengan pertempuran dianamakan fa’i.
[4]. Penyebab ahli bait haram menerima shadaqah, karena ahli bait telah Allah
muliakan dan Allah sucikan dari segala kotoran. Sedangkan shadaqah untuk
membersihkan harta dan jiwa manusia. (Syarah shahih Muslim 7/178]
[5]. Dalam sebagian jalan hadits, dseibutkan bahwa hadits ini di antara salah
satu penyebab mengapa umar berkeinginan untuk menikah dengan Ummu Kultsum binti
Ali bin Abi Thalib. (Fadhl Ahli Bait hal. 62]
MENCINTAI AHLI BAIT NABI
Sebenarnya mencintai Ahl bait adalah salah satu ajaran pokok
dalam Islam, sayang di kalangan Ahl Sunah agak sedikit dibicarakan, karena
takut dicap Syiah, Padahal Imam Syafi’i mengatakan, ” Kalaulah mencintai Ahlul
Bait dikatakan sebagai rafidi (Syi’ah), biarlah aku dikatakan rafidi”…
Kepada Ahl Bayt Nabi, umat Islam diwajibkan untuk
mencintainya, menghormatinya dan mengikutinya.
A. Terminologi
Istilah yang dipakai adalah a) Ahl al-Bayt, b) Al
al-Nabi, c) Al Bayt al-Nabi d) `Itrat al-Nabi. Semuanya
berarti keluarga Nabi, Rumah tangga Nabi, atau keturunan Nabi
Yang termasuk dalam Ahl Bait sangat variatif, dari yang
terbatas hingga sangat luas. Berikut makna yang termaktub :
a.. `Ali, Fatima, Hasan, and Husayn, dan keturunannya:
Muhassan, Zaynab, and Umm Kulthum [anak`Ali and Fatima]; keturunan al-Hasan:
Zayd, al-Qasim, Abu Bakr, `Abd Allah, `Umar, al-Hasan, `Abd al-Rahman,
al-Husayn, `Amr, Muhammad, Ya`qub, Ja`far, Hamza, and Talha; keturunan
al-Husayn: Abu Bakr, `Abd Allah, `Ali al-Kabir, `Ali Zayn al-`Abidin, `Umar,
Fatima, Sukayna, Zaynab al-Sughra, and Umm Kulthum al-Sughra.
b. Istri-istri [mereka boleh menerima zakat, Hajar dalam Fath
al-Bari (3:277) dari Ibn Battal]:
1. Khadija bint Khuwaylid. melahirkan : al-Qasim, `Abd Allah,
Zaynab, Fatima al-Zahra’, Ruqiyya, & Umm
Kulthum.
2. Sawda bint Zam`a
3. `A’isha bint al-Siddiq
4. Hafsa bint `Umar
5. Zaynab bint Khuzayma
6. Umm Salama, Hind bint Umayya
7. Zaynab bint Jahsh
8. Juwayriyya bint al-Harith
9. Safiyya bint Huyayy
10. Umm Habiba bint Abi Sufyan
11. Maymuna bint al-Harith
12. Marya al-Qibtiyya, melahirkan Ibrahim.
c. Banu Hashim dan Banu al-Muttalib. [mereka boleh menerima
zakat Banu Hashim Banu al-Muttalib, dinyatakanby oleh Ibn Battal: dalam
Shawkani di Nayl al-awtar (4:175) and oleh Nawawi dalam Sharh Sahih Muslim
(5:36).]
B. Ayat/hadis Tath-hir (Kesucian Ahl Bait)
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari
kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33)
Umm Salama menyatakan ayat ini diturunkan ketika Rasul
melingkupi ke dalam pakaiannya `Ali, Fatima,
al-Hasan, dan al-Husayn, dan mengatakan: “Ya Allah! Mereka adalah Ahlul Bait,
Sehingga jauhkan kekotoran dari mereka dan bersihkan mereka sebersih-bersihnya
.” (Ahmad dalam Musnad melalui 6 rantai, JugaTirmidhi dengan beberapa rantai
dia menyatakan hasan sahih, al-Hakim, and Tabarani). Riwayat ini sering disebut
hadis tentang jubah.
Allah mengatakan, “Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa
dari kamu, hai ahlul bait .”(33:33) Dia mengatakan, “isteri-isterinya adalah
ibu-ibu mereka.” (33:6) Zayd ibn Arqam menyatakan bahwa Nabi mengatakan, “Saya
nyatakan demi Allah ! Ahlul Baitku!” tiga kali. kami menanyakan kepada Zayd
Siapa Ahl , dia mengatakan “Keluarga Ali “, dan katanya, “keluarga’Ali,
Keluarga Ja’far bin Abu Talib, keluarga Aqil bin Abu Tali dan keluarga
al-’Abbas.”(Muslim.)
C. Ayat/Hadis Mubahalah
“Mubahalah” ialah masing-masing pihak di antara orang yang
berbeda pendapat mendo’a kepada Allah dengan sungguh-sungguh, agar Allah
menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani
Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran
Nabi Muhammad saw.
Muslim, Tirmidhi (hasan sahih gharib), al-Hakim, dan lainnya menyatakan bahwa
ketika Allah menurunkan ayat :”… maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita
memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan
isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah
kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang
yang dusta . (QS. 3:61) Sa`d ibn Abi Waqqas mengatakan: Rasul memanggil `Ali, Fatima, Hasan, dan Husayn, dan berkata : “Ya Allah!
Inilah familiku” (allahumma ha’ula’u ahli)
D. Hadis Tsaqalain (Dua pusaka)
“Saya tinggalkan kepadamudua pusaka : Kitab Allah dan Ahl Bait
Nabi” (Muslim, Tirmidhi, dan Ahmad melalui banyak rantai). Dalam beberapa
riwayat: “..Ktab Allah dan (orang yang dalam) mantelku (itrah): keduanya tidak
akan terpisah sehingga mereka datang kepadaku pada hari pembalasan. …”
Ahmad dalam Musnad dan Muslim dalam Sahih-nya, meriwayatkan
dari Zayd ibn Arqam, jugaal-Hakim, Ibn Hibban, al-Darimi, al-Bazzar, dan
al-Tabarani:
Rasulullah berdiri dan berkata kepada kami di suatu tempat yang dikenal sebagai
Khum, antara Mekah dan Madinah. Beliau berdoa kepada Allah dan memperingatkan
kami untuk selalu mengingat Allah, kemudian beliau berkata, “Wahai manusia,
saya adalah manusia biasa dan waktu ini adalah dekat ketika Tuhan akan datang
kepadaku dan akan menanyakanku. Peganglah! Aku tinggalkan kepadamu dua pusaka.
Pertama, Kitab Allah, yang didalamnya berisi petunjuk dan cahaya … dan Ahl
Baitku. Aku ingatkan kepadamu Ahl Bait Nabi! Aku ingatkan kepadamu Ahl Bait
Nabi! Aku ingatkan kepadamu Ahl Bait Nabi! Huswayn ibn Sabra menanyakan Zayd,
“Siapa Ahl Bait Nabi, ya Zayd? Tidakkah istr-istri beliau di antara ahl bait ?”
Zaid menjawab, “Istri-istri adalah ahl baitnya, tetapi, Ahl bait (di sini)
adalah mereka yang zakat dilarang baginya sesudah Nabi”. Huswain berkata,
“Siapa mereka?” Dia menjawab” “keluarga’Ali, Keluarga Ja’far bin Abu Talib,
keluarga Aqil bin Abu Tali dan keluarga al-’Abbas. Zakat haram bagi mereka”.
Versi Tirmidhi ( hadith hasan gharib) dinyatakan bahwa Zayd
ibn Arqam berkata: Rasul berkata, ” Aku tinggalkan kepadamu yang jika kamu
berpegang kuat kepadanya, kamu tidak pernah akan sesat sesudahku. yang satu
lebih besar dari yang lain, yaitu Kitab Allah, tali yang memanjang dari bumi ke
langit, dan ‘itrahku (Ahl bait). Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga
mereka datang kepadaku di hari pembalasan. Maka ikuti bagaimana kamu berbuat
bersama mereka sesudahku”
E. Shalawat Kepada Keluarga Nabi
Kita diperintahkan untuk menyerukan shalawat kepada Ahl bayt
Nabi. Ketika shahabat bertanya kepada Nabi bagaimana mereka
seharusnyabershalawat, Nabi menjawab :
“Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad, istrinya dan keluarganya,sebagaimana
engkau sampaikan shalawat kepada Inraim. Dan berilah barakahkepada Muhammad,
istri dan keluarganya, sebagaimana engkau berikan kepadaIbrahim. Sesungguhnya,
engkau Maha terpuji dan Maha Agung”(Bukhari dengan 2 rantai, Nasa’i, Abu Dawud,
Ahmad, Ibn Majah, and Malik)
Bahkan di dalam shalat kita disunahkan (menurut Imam Syafi’i
bahkan wajib) untuk membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya di
waktu tahiyat:
Allahumma shali ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad….
F. Ayat/Hadis Fa’i dan Khums
Allah memberikan kepada Ahl bait hak fa’i dan khums, dimana
dinyatakan :
“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada
Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul,
kerabat Rasul, anak-anak yatim…” (59:7)
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh
sebagai rampasan perang 613, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul,
kerabat Rasul, anak-anak yatim,….” (8:41)
dari Hasan ibn `Ali, Umm Kulthum saudara `Ali, dan lainnya:
“Sadaqa haram bagi keluarga Muhammad.” Bukhari dalam bab zakat, Ahmad melalui 5
sanad dan al-Darimi dalam Sunan…
G. Keutamaan dan keharusan mencintai Ahl Bait
Abu Ya`la dari Abu Hurayra, Nabibersabda : “Yang terbaik di antara kamu
adalah yang paling baik kepada keluargaku sesudahku “.
al-Haythami dalam Majma` al-zawa’id (6:40), dan dikatakan : “Abu Ya`la
merawikan dan semua
rawi terpercaya.”
Ibn Abbas menyatakan dari Rasulullah : “Allah mebagi menusia menjadi
duakelompok, dan Dia menjadikan saya dalam kelompok terbaik. Allah berfirman
ttg. “Golongan kanan” dan “golongan kiri”. Saya berada di golongan kanan dan
saya yang terbaik dalam golongan kanan. Kemudian Dia membagi kedua golongan
menjadi tiga. Dia berfirman, ” Golongan kanan dan golongan kiri dangolongan
yang mendahului (sabiquna sabiqu)” (56:9). Saya di antara yang
mendahului dan saya yang terbaik dari yang mendahului. Kemudian Dia membagi ke
dalam tiga suku dan Dia memasukkan aku dalam suku terbaik. Dia berfirman, “Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dariseorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal.“(49:13). Saya yang paling bertaqwa dan paling mulia
dalampandangan Allah. Kemudian Dia membagi suku-suku dan memasukkan akudalam
keluarga terbaik. Dia berfirman, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya. (QS. 33:33) (Hadith at-Tabarani dan al-Bayhaqi.)
Nabi
bersabda tentang Keutamaan Ali kw. & Al-Abbas ra
“Siapa yang menjadikan aku pemimpin, Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah,
dukunglah orang yang mendukungnya dan lawanlah orang yang melawannya ” (Ibn
Hanbal.)
“Hanya orang beriman yang mencintainya (Ali) dan hanya orang munafik yang
membencinya” (Muslim.)
Dia mengatakan kepada al-Abbas,”Demi Yang jiwaku ditangan-Nya, iman tidak akan
masuk ke dalam dada seseorang hingga dia mencintai Allah dan Rasulnya.
Barangsiapa merugikan pamanku berarti telah merugikanku. Paman seseorang adalah
seperti ayahnya” (At-Tirmidhi dan Ibn Majah.)
Dia juga mengatakan kepada al-Abbas, “Masukkan Ali dengan anakmu, pamanku”.
Kemudian dia mengumpulkan mereka dan menutupi mereka dengan jubahnya, dan
berkata, “Ini pamanku ayah dari keduanya dan inilah ahl baitku, maka jagalah
mereka dari neraka sebagaimana aku menjaga
mereka”. Malaikat di pintu dan
tembok berkata, “Amien!Amien!” (Al-Baihaqi)
Tentang mencintai Hasan & Husein ra
Rasul biasa memegang tangan Usama ibn Zayd dan al-Hasan, kemudian berkata,
“Cintailah mereka, Ya Allah, karena aku mencintai mereka” (al-Bukhari)
Abu Bakr berkata, ” Hormati Muhammad dengan mencintai ahl baitnya”. Dia juga
berkata,”Demi yang jiwaku di tangan-Nya, yang dekat dengan Rasul Allah adalah
yang lebih dekat kepadaku daripada keluarga sendiri, ” (Bukhari,dalam dua
riwayat)
“Allah mencintai orang yang mencintai Hasan “(At- Tirmidhi.)
Juga dikatakan, “
‘Uqba ibn al-Harith mengatakan, “Saya lihat Bakr meletakkan al-hasan
kepundaknya dan mengatakan,”Demi ayahku, dia mirip Rasul! Dia tidak miripAli!”
Ali tertawa.Abu Bakr ibn ‘Ayyash berkata, “Jika Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Ali datang
kepada saya, saya akan memulai dengan keperluan Ali lebih dulu. Karena
kedekatan (kekeluargaannya) dengan Rasulullah saya lebih suka jatuh dari langit
ke bumi daripada mendahulukan mereka dibanding dia (Ali)”
Tentang
keluarga Rasul yang lain
Rasul mengatakan pada Umm Salama, “jangan menyakitiku dengan
menyakiti Aisya”.(Al-Bukhari.)
Diriwayatkan bahwa ‘Abdullah ibn Hasan ibn Husayn sedih, “saya datang ke ‘Umar
ibn ‘Abdu’l-’Aziz ketika saya perlu sesuatu dan dia berkata,” Jika kamu
mempunyai keperluan, kemudian datang kepadaku atau menulis untukku. Saya malu
sebelum ‘Allah melihatmu di pintuku’” (Meski dia khalifah, dia malu )
Ibn Umar melihat Muhammad ibn Usama ibn Zayd dan berkata Dia berkata,”itu
adalah Muhammad ibn Usama”, Ibn Umar membungkukkan kepalanya dan memegang tanah
dan berkata, “Jika Rasulullah melihat dia dia akan mencintainya”.
Ketika ‘Umar ibn al-Khattab memberi anaknya, Abdullah 3000, dan Usama ibn Zayd
3500, Abdullah bertanya, “Mengapa dia diberi lebih? Demi Allah, dia tidak
berperang melebihi saya.” Dia menjawab,”Karena Zayd lebih dekat kepada
Rasulullah dibanding ayahmu, dan Usama lebih dekat
dibanding kepadanya dibanding kamu, sehingga aku lebih menyukai kecintaan Nabi
dibanding kecintaan saya”
Abu Bakr dan’Umar biasa mengunjungi Umm Ayman, bekas budak Nabi, Mereka
mengatakan : “Rasulullah biasa mengunjunginya”
Ketika Halima as-Sa’diyya datang kepada Nabi, dia mengulurkan jubahnya
kepadanya dan melayani apasaja yang dibutuhkannya. Sesudah Rasul wafat dia
datang ke Abu Bakr dan Umar, dan mereka melakukan hal yang sama.
Khulasah
Jadi, mencintai Ahl Bait adalah merupakan salah satu perwujudan
dari mencintai Rasulullah saw. Mencintai ahl bait Nabi dengan demikian
merupakan salah satu dari ajaran pokok ajaran Islam….
Sebagai bukti kecintaan kita hendaklah kita :
- mencintai dan menghormati mereka
- bershalawat untuk mereka
- mengikuti ajarannya
- membela mereka
Jika aku dicintai, maka keluargaku yang aku cintai juga seharusnya dicintai”
[Sahih al-Tirmithi]
“Bagi kalian, keluargaku adalah seperti perahu Nuh dan siapa yang menaikinya,
dia akan selalu diselamatkan, dan siapa yang tinggal akan terbunuh” [Riwayat
Imam Ahmad bin Hanbal]
Para ahlul bait di sunnahkan
untuk selalu bersholawat kepada rasulullah saw di luar sholat fardhu agar
selalu mendapatkan hidayah Allah saw dan mendapatkan syafaat dari rasulullah
saw, terutama karena mereka merupakan keturunan langsung dari rasulullah saw.
Doa Nabi Muhammad SAW
Pada pernikahan putri beliau,
Fatimah Azzahra dengan Ali bin Abi Thalib :
“Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari
keduanya, memberkati mereka berdua dan kiranya Allah SWT meningkatkan kualitas
keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi
umatnya.”
Faedah dan
Buah Sholawat Untuk Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam
Ibnul Qoyyim
menyebutkan 39 manfaat sholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, di
antaranya adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan
perintah Allah subhaanahu wa ta’aala
2. Mendapatkan sepuluh sholawat dari Allah bagi yang membaca sholawat satu
kali.
3. Ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kejahatan.
4. Diangkat baginya sepuluh derajat.
5. Kemungkinan doanya terkabul bila ia mendahuluinya dengan sholawat, dan
doanya akan naik menuju
kepada Tuhan semesta alam.
6. Penyebab mendapatkan syafa’at sollallohu ‘alaihi wa sallam bila diiringi
oleh permintaan wasilah
untuknya atau tanpa diiringi olehnya.
7. Penyebab mendapatkan pengampunan dosa.
8. Dicukupi oleh Allah apa yang diinginkannya.
9. Mendekatkan
hamba dengan nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat.
10. Menyebabkan Allah dan malaikat-Nya bersholawat untuk orang yang
bersholawat.
11. Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab sholawat dan salam orang yang
bersholawat untuknya.
12. Mengharumkan majelis dan agar ia tidak kembali kepada keluarganya dalam
keadaan menyesal pada
hari kiamat.
13. Menghilangkan kefakiran.
14. Menghapus predikat “kikir” dari seorang hamba jika ia bersholawat untuk
nabi sollallohu ‘alaihi wa
sallam ketika namanya disebut.
15. Orang yang bersholawat akan mendapatkan pujian yang baik dari Allah di
antara penghuni langit dan
bumi,
karena orang yang bersholawat, memohon kepada Allah agar memuji, menghormati
dan
memuliakan rasul-Nya, maka balasan
untuknya sama dengan yang ia mohonkan, maka hasilnya sama
dengan apa yang diperoleh oleh rasul-Nya.
16. Akan mendapatkan berkah pada dirinya, pekerjaannya, umurnya dan
kemaslahatannya, karena orang
yang bersholawat itu memohon kepada
Tuhannya agar memberkati nabi-Nya dan keluarganya, dan doa
ini terkabul dan balasannya sama dengan
permohonannya.
17. Nama orang yang bersholawat itu akan disebutkan dan diingat di sisi Rasul
sollallohu ‘alaihi wa sallam
seperti penjelasan terdahulu, sabda
Rasul: “Sesungguhnya sholawat kalian akan diperdengarkan
kepadaku.” Sabda beliau yang lain:
“Sesungguhnya Allah mewakilkan malaikat di kuburku yang
menyampaikan kepadaku salam dari umatku.”
Dan cukuplah seorang hamba mendapatkan kehormatan
bila namanya disebut dengan kebaikan di
sisi Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam.
18. Meneguhkan kedua kaki di atas Shirath dan melewatinya berdasarkan hadits
Abdurrahman bin Samirah
yang diriwayatkan oleh Said bin Musayyib
tentang mimpi Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam: “Saya
melihat seorang di antara umatku
merangkak di atas Shirath dan kadang-kadang berpegangan lalu
sholawatnya untukku datang dan
membantunya berdiri dengan kedua kakinya lalu menyelamatkannya.”
[H.R. Abu Musa Al-Madiniy]
19. Akan senantiasa mendapatkan cinta Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam
bahkan bertambah dan
berlipat ganda. Dan itu termasuk ikatan
Iman yang tidak sempurna kecuali dengannya, karena seorang
hamba bila senantiasa menyebut nama
kekasihnya, menghadirkan dalam hati segala kebaikan-
kebaikannya yang melahirkan cinta, maka
cintanya itu akan semakin berlipat dan rasa rindu kepadanya
akan semakin bertambah, bahkan akan
menguasai seluruh hatinya. Tetapi bila ia menolak mengingat dan
menghadirkannya dalam hati, maka cintanya
akan berkurang dari hatinya. Tidak ada yang lebih
disenangi oleh seorang pecinta kecuali
melihat orang yang dicintainya dan tiada yang lebih dicintai
hatinya kecuali dengan menyebut
kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya cinta itu
tergantung kadar cintanya di dalam hati,
dan keadaan lahir menunjukkan hal itu.
20. Akan mendapatkan petunjuk dan hati yang hidup. Semakin banyak ia
bersholawat dan menyebut nabi,
maka cintanyapun semakin bergemuruh di
dalam hatinya sehingga tidak ada lagi di dalam hatinya
penolakan terhadap perintah-perintahnya,
tidak ada lagi keraguan terhadap apa-apa yang dibawanya,
bahkan hal tersebut telah tertulis di
dalam hatinya, menerima petunjuk, kemenangan dan berbagai jenis
ilmu darinya. Ulama-ulama yang mengetahui
dan mengikuti sunnah dan jalan hidup beliau, setiap
pengetahuan mereka bertambah tentang apa
yang beliau bawa, maka bertambah pula cinta dan
pengetahuan mereka tentang hakekat
sholawat yang diinginkan untuknya dari Allah.