Minggu, 26 Mei 2013

MACAM-MACAM ILMU DALAM AGAMA ISLAM


ILMU SYAHADAT

Sumber dari segala ilmu agama yaitu ilmu yang mempelajari syarat, rukun, batal, dll dari syahadatain dan menjadi tolok ukur aqidah islam serta jembatan untuk mengenal seluruh ilmu-ilmu agama.
Kitab : Al-Aurad.

ILMU TAUHID / ILMU AQIDAH

Ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang sifat – sifat allah swt dan sifat – sifat para utusanya yang terdiri dari sifat yang wajib, sifat jaiz dan sifat yang mustahil. selain dari itu juga menerangkan segala yang memungkinkan dan dapat diterima oleh akal, untuk menjadikan bukti dan dalil, dengan dibantu oleh masalah sam’iyat agar dapat mempercayai dalil itu dengan yakin tanpa keraguan di hati.
Kitab : Aqidatul awwam, Jauhar Tauhid, Sifat 20, Addurunnaifs (Permata Yang Indah) dll.

ILMU TASAWUF

Ilmu yang mempelajari cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Secara umum terbagi 4 tingkatan yaitu syari’at berkenaan dengan hukum dan tata cara beribadah kepada Allah SWT, thoriqot berkenaan dengan jalan yang ditempuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, haqiqot berkenaan dengan hasil kebenaran yang sesungguhnya setelah menjalankan thoriqot, ma’rifat berkenaan dengan mengenal dan berhadap-hadapan langsung dengan Allah SWT tanpa hijab atau tirai.

ILMU AL-QURAN/ULUMUL QURAN

Secara etimologi, kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jama’ dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnaya. Dengan demikian, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu rasmil Qur’an, ilmu I’jazil Qur’an, ilmu asbabun nuzul, dan ilmu-ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an menjadi bagian dari ulumul Qur’an.
lmu yang membahas tentang keadaan Al-Qur’an dari segi turunya, sanadnya, adabnya makna-maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya.

ILMU AKHLAQ

Ilmu akhlak adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia agar mempunyai adab dan sopan santun dalam pergaulan baik pergaulan sesama manusia maupun dengan Sang Pencipta. Kita dibina untuk mengetahui peraturan dan prosedur yang sesuai agar tidak bertindak sesuka hati. Bila kita mampu mengimplementasikan ilmu ini maka pergaulan akan menjadi indah dan sangat disayang baik oleh manusia, hewan maupun Sang Pencipta seperti akhlak Nabi Muhammad SAW. Nabi sendiri diutus, yang pertama tugasnya adalah memperbaiki akhlak manusia yang saat itu semua menjurus akhlak Jahiliyah.
Kitab : Akhlaqul Libanin.

ILMU HADITS

Ilmu Hadis atau yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadits yang mengandung dua kata, yaitu ‘ulum’ dan ‘al-Hadis’. Kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadis dari segi bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Kitab : Fathul Bari, Subulus Salam, Bulughul Maram dll.

ILMU USHUL FIQIH

Kata ushul fiqh adalah kata ganda yang berasal dari kata “ushul” dan “fiqh” yang secara etimologi mempunyai arti “faham yang mendalam”. Sedangkan ushul fiqh dalam definisinya secara termologi adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang membawa kepada usaha merumuskan hukum-hukum syara’ dari dalil-dalinya yang terperinci. Kitab : Al-Ushul min Ilmil Ushul.

ILMU FIQIH

Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).
Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.
Kitab : Kifayatul Akhyar, Safinatun Najah.

ILMU FARAIDH

Faroidh adalah bentuk kata jamak dari kata faridhoh. Sedangkan Faridhoh diambil dari kata fardh yang artinya taqdir (ketentuan). Ilmu Faraidh merupakan bagian dari Ilmu Fiqih yaitu Ilmu yang Membahas hukum-hukum waris dan ketentua-ketentuan serta pembagian-pembagiannya.
Kitab : Matan Ar-Rahbiyah.


ILMU TAJWID

Pengertian Tajwid menurut bahasa (ethimologi) adalah: memperindah sesuatu.Sedangkan menurut istilah, Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca Al-Quran dengan sebaik-baiknya. Tujuan ilmu tajwid adalah memelihara bacaan Al-Quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca. Belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardlu kifayah, sedang membaca Al-Quran dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid) itu hukumnya Fardlu ‘Ain. Kitab : Tuhfatul Athfal, Hidayatul Mustafid dll.

ILMU SIRAH / TARIKH

Ilmu yang mempelajari tentang sejarah Islam.

ILMU BALAGHOH

Ilmu cara berdialog dengan orang lain.

ILMU FALAQ

Ilmu yang mempelajari cara mencari arah kiblat, menentukan waktu sholat dan awal bulan. Di dalamnya dipelajari juga ilmu berhitung dan ilmu tentang alam.

12 FAN/MACAM ILMU ALAT

Dalam dunia Pesantren, khususnya Pesantren Salaf (baca:Tradisional), keilmuan seseorang sudah bisa dikatakan mapan ketika dia sudah mempelajari 12 bidang ilmu. Memang satu pesantren dengan yang lainnya kadang berbeda dalam mendefinisikan 12 tersebut. Ilmu Alat adalah ilmu untuk mengetahui cara membaca arab gundul atau kitab gundul (huruf yang tanpa fathah, dhomah kasarah dan tanda baca lainnya). 12 nama ilmu tersebut antara lain :

1. Shorfun = Shorof

Ilmu ini membahas tentang morfologi suatu kalimah (kata) dalam bahasa arab. Perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain untuk menghasilkan ma’na yang dimaksud. Contoh dari Fi’il (kata kerja) Madli ke bentuk Fi’il Mudlori’, Mashdar (kata benda), Isim Fa’il (pelaku), Isim Maf’ul (kata benda objek), dan lainnya. Kitab : Matan Bina, Kailany, Fathul Khobirul Latif, Nadhm Maqshud, dan Lamiyatul Af’al.

2. Nahwu = Nahwu

Ilmu ini membahas gramatikal bahasa arab seperti bagaimana status jabatan kalimah (kata) dalam suatu kalam (kalimat). Apakah dia menjadi Fa’il (pelaku/subjek), Maf’ul (objek), Na’at (sifat), dan lainnya. Seperti halnya ilmu Ma’ani, ilmu ini otomatis membahas keterkaitan suatu kalimah dengan kalimah yang lainnya. Contohnya lafadh Ar Rohman pada bacaan basmalah adalah Na’at dari lafadh Jalalah (Allah). Kitab : Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah dll.

3. Khottun = Khot

Tulisan bahasa arab pun ada tata cara penulisannya. Nah, tata cara penulisan tersebut menjadi kajian ilmu ini. Dalam bahasa arab ada standar tujuh jenis tulisan, yaitu Naskhi, Kufi, Tsulusi, Riq’ah, Diwani, Diwani Jali, dan Farisi.

4. ‘Arudl = ‘Arudl

Nah, tadi kita sedikit menyinggung masalah bahar. Dalam ilmu inilah istilah Bahar itu dipelajari. Bagaimana suatu nadhm bisa disusun dengan menggunakan enam belas bahar yang sudah ada. Kitab : Mukhtashor Syafi.

5. Bayanun = Bayan

Lebih sukar dari ilmu Shorof, ilmu ini membahas tentang majas dan perumpaman dalam bahasa arab. Seperti halnya ilmu Shorof, ilmu ini juga hanya membahas satu kalimah (kata) tanpa melihat hubungannya dengan kalimah yang lain.

6. Ma’ani = Ma’ani

Mirip dengan ilmu Bayan, ilmu ini juga terasa lebih sukar (memang semuanya sukar ). Pembahasan ilmu ini lebih ke penambahan ma’na yang timbul karena terjadi perubahan susunan kalimah bahasa arab. Jadi, ilmu ini tidak hanya membahas satu kalimah saja, tapi melihat hubungannya dengan kalimah yang lain.

7. Qofiyatun = Qofiyah

Fan (ilmu) ini mengatur bagaimana ujung satar awal harus sama dengan ujung satar tsani dalam suatu bait. Satar adalah potongan setengah bait dari suaatu nadhm. Misalnya kita punya suatu Nadhm Al Hamdulillahil ladzi qod waffaqo # Lil ‘ilmi khoiro kholqihi wa lit tuqo Dari bait di atas, satu satar adalah dari Al Hamdulillah sampai waffaqo. Yang saya contohkan adalah Bahar Rojaz dimana satar awal harus sama rimanya dengan satar Tsani. Tapi, di bahar yang lain ketentuan itu berbeda.

8. Syi’run = Syi’ir

Ilmu ini membahas tentang bagaiman cara membuat suatu Syi’iran tentunya dalam bahasa arab.

9. Isytiqoqun = Isytiqoq

Pencetakan suatu lafadh dari lafadh yang lain adalah objek kajian ilmu ini. Jika kita ingin tahu, sebenarnya lafadh Allah-pun dicetak dari lafadh Ilahun setelah melalui perubahan-perubahan. Demikian pula dengan lafadh-lafadh yang lain.

10. Insyaau = Insya

Ilmu ini membahas bagaimana membuat suatu kalam (kalimat) yang benar dalam bahasa arab. Biasanya latihan ilmu ini adalah dengan menyusun kalam dari runtutan kalimah yang sembarang.

11. Munadhoroh = Munadhoroh

Kadang kala kita perlu ber-Munadhoroh (argumen) dengan pendapat orang lain. Nah, supaya argumen yang diungkapkan sesuai dengan aturan, dibuatlah ilmu ini.

12. Lughot = Lughot

Ilmu ini membahas tentang mufrodat (kosa kata) dalam bahasa Arab. Semisal vocabulary dalam bahasa Inggris.

Jumat, 24 Mei 2013

Berdo'a Dengan Tawasul


Sebelum masuk pada pembahasan dalil-dalil tawasul ,terlebih dahulu kami jelaskan pada kalian , sesungguhnya yang di maksud dengan istighosah pada para nabi , orang - orang sholeh dan bertawasul kepada nereka adalah menjadikan mereka sebagai sebab dan perantara untuk memperoleh apa yang di inginkan dan sesunguhnya Allah lah yang akan berbuat (memberi) --sebagai karomah bagi mereka dan bukanlah mereka yang berbuat (memberi). Dan demikianlah keyakinan yang benar dalam segala perbuatan. Seperti contohnya pisau, ia tidak dapat memotong dengan dirinya sendiri, tetapi yang memotong adalah Allah. Dan pisau hanyalah sebab yang bersifat kebiasaan (adat) dimana Allah menciptakan sifat dapat memotong ketika adanya pisau. 


Terdapat banyak dalil yang menerangkan kebolehan bertawassul, diantaranya firman Allah :“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, spaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. al-Maidah : 35). Ibnu Abbas berkata, washilah adalah segala sesuatu yang dijadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Juga Firman Allah : “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencri jalan kepada tuhan mereka siapa diantara mereka yang akan lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (Q.S. al-Israa’ : 57) Ibnu Abbas berkata mereka itu (yang diseru) adalah nabi Isa a.s., Ibunya, ‘Uzair dan para Malaikat.

Penjelasan dari ayat tersebut ialah : bahwasanya orang-orng kafir menyembah nabi-nabi dan para malaikat sebagai tuhan mereka. Maka dikatakan kepada mereka (orang kafir) : mereka yang kalian sembah itu bertawassul kepada Allah dengan orang yang lebih dekat pada Allah, maka mengapakah orang-orang kafir menjadikan mereka (nabi dan malaikat) sebagai tuhan mereka, padahal mereka (para Nabi dan Malaikat) adalah hamba (mahluk) yang butuh terhadap tuhan mereka dan bertawassul kepada-Nya dengan orang yang lebih tinggi derajatnya dari mereka. Demikianlah yang dijelaskan dalam rislah as-Sayyid Muhammad bin Hasyim. Dan Allah berfirman : “Bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Q.S. at-Taubah : 119). Dan sabda Rasulullah SAW : “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”.  Dan dalam hadits lain Rsulullah bersabda : “Jadilah kamu bersama Allah, jika tidak, maka jadilah kamu bersama orang yang bersama (dekat) dengan Allah”. Dan dikatakan : Fana terhadap guru itu merupakan permulaan Fana kepada Allah (Tanwir al-Qulub : 520). Imam al-‘Arif as-Sya’roni qoddasallahu sirrohu berkata dalam kitabnya an-Nafahat al-Qudsiyah ketika menyebutkan tatakrama dalam berdzikir, yaitu sebagai berikut ; (yang ke tujuh) hendaknya orang yang berdzikir membayangkan sosok gurunya berada didepan matanya, dan ini merupakan adab berdzikir yang paling kuat (tinggi). (Tanwir al-Qulub : 528).

Al-‘Allamah as-Sufiri dari golongan Syafi’iyah telah menyebutkan dengan perkataannya; bahwa ia senang menyendiri, sesungguhnya seperti halnya syetan tidak mampu menyerupai wujud Rasulullah, syetan juga tidak mampu menyerupai wujud Wali Kamil. (Tanwir al-Qulub : 528). Dikatakan dalam kitab Syarh as-sulam halaman 4; Sesungguhnya Allah memberikan Hamba-Nya sifat-sifat yang disandangkan kepadanya, seperti halnya (sifat) yang disandangkan kepada Allah SWT. Dan dalam kitab Nahji as-Sa’adah, Rasulullah SAW bersabda : “Bertawassul-lah kamu denganku dan ahli baitku kepada Allah, sesungguhnya orang-orang yang bertawassul dengan kami tidak akan ditolak” diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shohihnya. Dalam hadits lain Rasulullah bersabda : “Bertawassul-lah kalian dengan keagunganku, sesungguhnya keagunganku sangat besar”. (Bughyatul Awam dalam syarah Maulud Sayyid al-Anam –al-Bajuri juz II : 700).  Dan sabda Rasulullah SAW : “(Ya Allah) Ampunilah Ummi Fatimah binti Asad dan lapangkanlah kuburnya dengan haq nabi-Mu dan nabi-nabi sebelumku…..hingga ahir hadits, diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam kitab al-Kabir dan menshohihkannya Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Anas bin Malik r.a. fatimah yang dimaksud disini adalah ibunya syyidina Ali karromallahu wajhahu yang mengurus Rasulullah SAW. 

Sumber :  Miftakhussa'adah

Landasan Muamalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah dalam Segala Urusan Ibadah / Ky.Muhammad Hazim

Kamis, 23 Mei 2013

TENTANG MAKNA SHOLAT


1. Makna Sholat 5 Waktu (Sholat Wajib)

Tiap-tiap sholat wajib 5 waktu yang kita kerjakan memiliki maknanya masing-masing.
Makna dari tiap-tiap sholat wajib itu adalah:

a. SUBUH :
Dua raka’at artinya : Mensyukuri / membagusi lahir dan batin.
Sembahyangnya NABI ADAM A.S

SEJARAH ATAU RIWAYATNYA:
Waktu Nabi Adam As diturunkan ke dunia, keadaan gelap gulita yaitu jam 00.00 malam. Maknanya terjadi Thowaf. Tepat pukul 03.00 malam Nabi Adam dan Siti Hawa keluar sinar/cahaya baru ketemu di Gunung Sinai. Kemudian Nabi Adam, As melakukan syukuran pada Allah menciptakan matahari dari timur maka terjadi siang dan malam dan Sholat Fajar.

b. DHUHUR :
Empat raka’at. Artinya: Mensyukuri dua bahu dan dua paha.
Sembahyangnya Nabi Ibrohim, As

SEJARAHNYA ATAU RIWAYATNYA:
Pada waktu Nabi Ibrohim dibakar oleh Raja Namrud tepat pukul 12.00 siang (pada saat matahari tepat di atas kepala). Do’a Nabi Ibrohim, As terkabul, api menjadi padam, kemudian beliau melakukan syukuran dengan melaksanakan sholat 4 rakaat.

c. ASHAR :
Empat raka’at. Artinya: Mensyukuri dua tangan dan dua kaki.
Sembahyangnya Nabi Yusuf, As.

SEJARAH ATAU RIWAYATNYA:
Pada waktu Nabi Yusuf, As dianiaya oleh saudara-saudara kandungnya Beliau dimasukkan ke dalam sumur. Tepat pukul 15.00 ada kholifah lalu ditolong (diselamatkan). Kemudian Nabi Yusuf, As melakukan syukuran dengan melakukan sholat 4 raka’at.

d. MAGRIB :
Tiga raka’at. Artinya: Mensyukuri satu lubang mulut dan lubang hidung.
Sembahyangnya Nabi Yunus, As.

SEJARAH ATAU RIWAYATNYA:
Nabi Yunus, As ditelan oleh ikan bertahun-tahun lamanya Beliau selalu berdzikir di dalam perut ikan kemudian pada pukul 18.00 matahari di barat semburat cahaya merah Beliau dimuntahkan ke darat. Selanjutnya Nabi Yunus, As melakukan syukuran dengan melakukan sholat tiga raka’at.

e. ISYA :
Empat raka’at. Artinya: Mensyukuri dua mata dan dua telinga.
Sembahyangnya Nabi Isa, As.

SEJARAH ATAU RIWAYATNYA:
Pada waktu Nabi Isa, As dianiaya kaumnya hingga selesai tepat pukul 19.00 malam. Selesai kaumnya menganiaya, Nabi Isa, As melakukan syukuran dengan sholat 4 raka’at.

2. Makna dari Gerakan Sholat

Seperti halnya tiap-tiap sholat wajib 5 waktu yang kita kerjakan memiliki maknanya masing-masing, maka untuk tiap gerakan sholat yang kita lakukan pun memiliki maknanya sendiri-sendiri.. Makna dari tiap-tiap gerakan sholat itu adalah:

a. SHOLAT BERDIRI

Asalnya dari API, hurufnya ALIF. Maka jadi DAGING. Duduknya / tempatnya di MARAMAS.
Rupanya Merah. Keluarnya dari TELINGA. Nafsunya AMARAH. Malaikatnya JIBRIL.
Pujiannya ASTAGHFIRULLOH.

b. SHOLAT RUKU’

Asalnya dari ANGIN, hurufnya KHA. Maka jadi DARAH. Duduknya / tempatnya di JANTUNG.
Rupanya PUTIH. Keluarnya dari HIDUNG. Nafsunya MUTMAINAH. Malaikatnya ISROFIL.
Pujiannya ALLOH...... 3X -HUU..... 3X -HU ALLOH..... 3X

c. SHOLAT SUJUD

Asalnya dari AIR, hurufnya MIM. Maka jadi TULANG. Duduknya / tempatnya di USUS (SUMSUM).
Rupanya HITAM. Keluarnya dari MULUT. Nafsunya LUMAWAH (LEMAS). Malaikatnya IZRO’IL. Pujiannya A’UDZUBILLAHIMINAS

d. SHOLAT I’TIDAL

Asalnya dari TANAH / BUMI, hurufnya DAL. Maka jadi KULIT. Duduknya / tempatnya di HATI /
TENGAH-TENGAH JANTUNG ada darah menggumpal. Rupanya KUNING. Keluarnya dari MATA. Nafsunya SYAWIAH (BENING). Malaikatnya MIKAIL. Pujiannya SUBHANALLOH.

Keutamaan Shalawat


Disebutkan beberapa faedah shalawat atau manfaat shalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi. Seperti yang dikatakan para ulama. Terutama Al Alamah Ibn Al Qayyim, dan Al Hafizh Ibn Hajar Al Haitsami dengan secara rinci dan ringkas.

Ada pun beberapa faedah shalawat atau dengan kata lain keutamaan shalawat dan mengucap salam kepada Rasulullah Saw, yaitu:

F     Shalawat adalah serupa dengan perintah Allah Swt.
F     Bersamaan dengan Allah Swt ketika kita bershalawat. Sedangkan jika shalawat kita berbeda. Shalawat kita adalah doa dan permohonan. Sedangkan shalawat Allah Swt adalah keagungan dan kemuliaan.
F     Malaikat pun ikut shalawat didalamnya.
F     Allah akan memberikan balasan sepuluh, jika orang tersebut mengucapkan shalawat sekali.
F     Shalawat mengangkat sepuluh derajat.
F     Dituliskan sepuluh kebaikan.
F     Shalawat menghapus sepuluh keburukan.
F     Shalawat akan mendatangkan pengijabahan atas doanya. Jika shalawat didahulukan maka akan menghantar kepada Allah Swt. Sedangkan jika tidak diucapkan ketika berdoa, maka doa tersebut akan menggantung antara langit dan bumi.
F     Penyebab syafaat Nabi, jika ia meminta perantaraan ataupun meninggalkannya.
F     Penyebab diampunkannya dosa.
F     Penyebab untuk dicukupkannya kesedihan oleh Allah Swt kepada hamba-Nya.
F     Penyebab kedekatan seorang hamba kepada Rasulullah Saw di hari Kiamat.
F     Menempatkan kedudukan sedekah pada yang sepuluh.
F     Penyebab ditunaikannya kebutuhan.
F     Penyebab Allah dan para malaikat bershalawat kepadanya.
F     Shalawat adalah bentuk zakat bagi orang yang bershalawat dan merupakan penyuci baginya.
F     Penyebab datangnya kabar gembira bagi si pelakunya dengan surga sebelum ia mati.
F     Penyebab diselamatkannya si pelaku dari keadaan hari Kiamat.
F     Penyebab menjawabnya Nabi Saw (atas shalawat yang dilantunkannya).
F     Penyebab pengingat dari sesuatu yang ia lupakan.
F     Penyebab baiknya sebuah majelis, juga tidak akan merugikan seseorang yang termasuk ahli didalamnya.
F     Penyebab menolak kefakiran.
F     Menolak kepada pelakunya nama bakhil jika ia membalas orang mengucap shalawat atas Nabi Saw.
F     Penyebab kesuksesan doa jika disebutkan diawal doa atau pun dibelakangnya jika ia lupa bershalawat kepada Nabi Saw.
F     Shalawat akan mengantar pada jalan surga, serta seseorang akan meninggalkan jalan itu karena sebab meninggalkan shalawat.
F     Menyelamatkan dari fitnah di sebuah majelis yang tidak berdzikir kepada Allah dan Rasul-Nya, atau tidak memuji dan mengagungkan-Nya, dan bershalawat kepada Rasul-Nya.
F     Merupakan kesempurnaan bicara yang diawali denhan Hamdallah (memuji Allah) lalu shalawat kepada Rasul-Nya.
F     Berlimpahnya cahaya seorang hamba ketika berada di Shirath.
F     Shalawat akan mengeluarkan seorang hamba dari kehilangan.
F     Penyebab akan ketetapan Allah Swt dalam mengagungkan kebaikan bagi orang yang bershalawat kepadanya antara penduduk langit dan bumi. Karena orang yang bershalawat adalah menuntut kepada Allah agar kiranya Allah mengagungkan kepada Rasul-Nya, memuliakan, dan menghormatinya. Ini merupakan bagian dari amal, maka adalah harus bagi orang yang shalawat bagian seperti itu.
F     Penyebab keberkahan, baik pekerjaan ataupun usianya
F     Penyebab untuk menggapai rahmat Allah, karena rahmat adalah makna dari shalawat.
F     Penyebab kekalnya kasih sayang kepada Nabi Saw, dengan cara menambah atau melipat-gandakannya. Ini merupkan bentuk ikatan iman yang tidak akan sempurna bila tidak ada shalawat didalamnya. Karena ketika ia memperbanyak dalam mengingat yang ia cintai dan menghadirkannya dalam hati, serta memperindah dalam menghadirinya. Maka itu adalah bentuk cinta yang penuh dan semakin berlipat cintanya dan semakin bertambah rasa rindunya. Jika semakin penuh rasa rindunya, merupakan kebiasaan jika seseorang mencintai sesuatu, maka pasti ia sangat menginginkan untuk melihatnya. Sedangkan jika ia merasa cinta, maka akan semakin kuat ia mengingatnya. Sehingga lisan senantiasa memuji dan mengagungkan yang dicintainya. Sehingga ia akan terus menggandakan dan menambahkan keindahan dalam tiap kata ketika mengingatnya.
F     Penyebab rasa cinta Nabi Saw kepada seorang hamba.
F     Penyebab mendapatkan hidayah dari Allah, serta penyebab hidupnya hati.
F     Penyebab dikembalikannya nama orang yang bershalawat oleh Nabi Saw 9Nabi Saw menjawab shalawat dan ucapan salam orang tersebut). Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Sesungguhnya shalawat kalian akan disampaikan kepadaku. Kemudian sabdanya pula, "Sesungguhnya Allah mewakilkan atas kuburku malaikat yang senantiasa menyampaikan nama umatku yang mengucapkan salam kepadaku."
F     Penyebab tetapnya kedua kaki ketika berada di Shirath.
F     Bershalawat merupakan menunaikan sedikit daripada hak Nabi Saw, serta merupakan perlambang dari rasa syukur atas diturunkannya, yang merupakan bentuk dari nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita.
F     Bershalawat adalah gabungan antara shalawat dan dzikir kepada Allah, serta bersyukur kepada Allah. Bershalawat juga merupakan bentuk pengetahuan akan nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya dengan bentuk mengutus Nabi Saw.

Dikutip dari "Umat Akhir Zaman," Muhammad bin Alwi Al Maliki, Penerbit: Iqra Kurnia Gemilang.

Muhasabah (Introspeksi)


Muhasabah Amal

Momentum tahun baru, sepertinya cocok untuk menghitung apa saja kekurangan diri kita, sebagaimana kebiasaan para sholihin, seperti tercermin dari nasehat Sayyidina Umar ibn Khatthab RA, “Hisablah dirimu sendiri sebelum nanti di akherat engkau dihisab”, kalau tak salah ada seorang Ulama yang karena banyaknya menghisab diri, sehingga digelari Al-Muhasibi. Berbicara tentang menghisab diri tentunya harus ada orang yang untung dan orang yang rugi.  Dan  makna hijrah mestinya dimaknai berpindah menuju yang lebih baik. Pasti sebagian besar dari kita tahu tentang hadits yang maknanya seperti ini, “Orang yang beruntung yaitu orang yang amalnya hari ini lebih baik dari kemarin. Yang rugi adalah yang amal hari ini sama dengan kemarin, sedang yang amalnya hari ini lebih buruk dari kemarin di golongkan kepada orang yang celaka." Sepertinya saya lebih banyak rugi nih!

Saya akan sedikit berbagi pengalaman dulu, menyertai Guru kami, Alm. Abah Idris Anwar, mungkin bisa sebagai pembanding, kesalehan ulama dulu, yang teringat kalau setelah shalat shubuh, menunggu waktu Isyrok,  setelah pembacaan Aurad Abah Umar, setelah potongan ayat :
wa nunazzilu minal qur'ani ma huwasysyifaau wa rohmatullilmu'miniin walaayaziidudzdzolimiina illa khosaro.

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.(Al-Isro:82)
Mulailah Beliau membahas “Khosaro”, kerugian-kerugian amalan yang telah dilakukan di sebut-sebut, hal demikian dilakukan mungkin tiap setelah shubuh, sampai sekarang lebih dari 10 tahun berlalu saya mungkin selalu mengingatnya. Tak pernah menyebut amalan yang pernah dilakukan, yang dihitung justru kerugiannya, padahal kalau sekarang saya hitung amalan apa aja yang didawamkannya, pasti saya tak sanggup untuk mengikutinya. Puasanya yang saya ingat awal dzulhijjah 9 hari, awal muharam 10 hari, Rajab-Sya’ban-Rhomadlon, 6 hari syawal. Shalat sunnah yang saya ingat menurut yang lebih lama menyertai Beliau  pada malam Arofah,  Asyura, Nisfu Sya’ban, 27 Rajab 100 rokaat , saya pernah denger senior saya menyebut jumlah minimal sholat sunnah tiap hari dan jelas saya lupa karena tak pernah diamalkan, demikian secara rutin dilakukan Beliau. Sehingga pada masa menjelang wafatnya karena kaki Beliau lumpuh sehingga sholat  sambil duduk, dan masih mengimami yang biasa 100 roka’at menjadi 20 rokaat. Dan  masih banyak amalan yang telah dianjurkan dan dibiasakan oleh Guru Beliau, Habib Umar.

Hal yang aneh ketika menjelang  tahun wafatnya minta didoakan panjang umur untuk memperbaiki amalannya, terasa aneh karena amal yang di dawamkan Beliau sudah demikian lama sampai berusia 86 tahun, tapi masih terasa banyak kekurangan, dan minta di doakan kepada murid Beliau, hal yang mungkin saya anggap aneh!

Kembali menengok ke diri kita bekal apa saja yang sudah dipersiapkan? Iman harus dibuktikan  dengan amal shaleh, sebab perintah iman selalu digandeng dengan beramal shaleh, bukan hanya angan kosong, atau hanya berupa tulisan seperti tulisan ini, atau istilah Abah Idris sih,  KKO, Kalah Ku Omong (bs.Sunda, maksudnya kenapa Cuma berbicara tidak berbuat ). Contoh lain sebagai pembanding, konon Imam Ali Zainal Abidin di gelari Imam As-Sajjad, karena tiap hari sholat tidak kurang dari  seribu rokaat, pada saat wafatnya ada bekas memikul karung, rupanya Beliau memikul karung gandum sendiri dan dibagikan ke fakir-miskin, dan tidak ada yang tahu kecuali setelah wafatnya, karena fakir miskin yang biasa dapat jatah setelah wafat Imam As-Sajjad tidak dapat jatah lagi. (mohon di koreksi).

Sebagai pelengkap karena saat upload tulisan ini pada hari asyuro, awal muharam sepertinya saat yang tepat untuk mengingat “ Kisah Imam Husein merajut Syahid Karbala”, silahkan simak dan download mp3 dakwah dari Buya Yahya tersebut.

Diatas telah disinggung  teladan yang mudah-mudahan memotivasi kita untuk meningkatkan amal kita, Kalau bagi kita mungkin harus sedikit demi sedikit tapi continue/istiqomah, yang penting ada cirinya saja. dan yang tak boleh dilupakan untuk mengawal dan memupuk Imam dan Amal kita dengan Ilmu, yang dasar mungkin tentang bersuci dan Sholat, denger-denger di sebuah daerah tempo doeloe kalo seorang  mau menikah harus khatam Kitab Safinah (Kitab fikih) dulu. Terlepas dari benar tidaknya atau mungkin sudah tidak berlaku lagi, bukankah mencari ilmu itu wajib bagi seorang Muslim ?

Sebagai Ringkasan muhasabah amal di awal tahun Hijriah  yang secara teori mestinya dimaknai hijrah menjadi lebih baik, Iman – Amal – Ilmu – Ahlak kita, minimal kita menyadari kekurangan diri kita. Dan memohon  diberi kekuatan untuk dapat merobah kekurangan tersebut, La hawla wa la Quwwata illa billah.
Ya Hadi ya ‘Alim ya Khobir  Ya Mubiin –  ya Waly ya Hamid Ya qowim Ya Hafidz. Ya Allah sesungguhnya Engkau telah melihat kekurangan ibadah kami dari pendahulu kami, bimbing dan tunjukilah kami, kami berharap syafaat dari para pemberi syafaat.

Muhasabah Dunia

Berbicara tentang Muhasabah kalau masalah dunia pasti kebanyakan kita paling cerdas dalam menghitungnya. Tapi kadang rencana tinggal rencana, telah  kita tetapkan target tahun depan akan tercapai hal tertentu, tahun depan dilalui ternyata tidak tercapai, tahun berganti tahun sepuluh tahun kemudian bahkan lebih  ternyata belum juga tercapai, hal demikian tentu sangat menyakitkan, mengusahakan hal yang bukan bagian takdir kita adalah menyakitkan, saya turut prihatin kalau anda mengalami hal demikian, semoga Allah menolong Anda, Perlu kita ketahui bahwa cobaan terberat dialami para Nabi dan Rosul, demikian makin kebawah tingkatannya akan makin ringan cobaannya, pada saat ini materialisme makin menjadi-jadi, sehingga kadang kita mengukur kesuksesan seseorang dari atribut keduniaannya, kalau saja kita menghormati seseorang hanya dari atribut dunianya saja, berarti kita telah kehilangan 2/3 keimanan kita.

Kembali kepada target yang tak kunjung tercapai, diri ini harus selalu diingatkan :
Tugas kita adalah memaksimalkan usaha lahir kita dan usaha inilah yang mudah-mudahan bernilai ibadah, dan kita harus siap dengan tembok takdir. Percaya kepada Taqdir adalah bagian dari rukun iman.
Bahwa Al quran adalah mukjizat dan kebenaran yang harus kita yakini, ketika kita membaca AlQuran dan meresapi artinya yakinlah terus belajar untuk yakin, ketika membaca Al quran menjadi obat bagi hati ini, yakinlah! Ketika membaca Allah yang meluaskan rizki dan menyempitkannya, yakinlah !   Ketika sampai pada bacaan : boleh jadi engkau mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu, cobalah untuk yakin!
Andai saja kita meyakini seperti keyakinan salafusholeh, bahwa dunia hanya tempat mampir dan tempat untuk beramal mempersiapkan bekaluntuk di akherat kelak, serta betapa panjang perjalanan setelah hidup di dunia ini, akan terasa ringan cobaan kita, memang kalau teori  sih mudah, tapi cobalah merenung  andaipun kita tidak menerima cobaan tersebut tetap saja cobaan itu menimpa kita, dan kita mendapat dosa, kalau menerima kita dapat pahala sabar . semua keyakinan ini boleh jadi merupakan pemaknaan syahadat.

Ingatlah akan hadits yang maknanya , kalau saja umat Islam sudah mengagungkan urusan dunia, maka akan dicabut kehebatan Islam#. Andai saja kemuliaan dari Allah adalah gemerlapmya dunia ini, pastilah Fir’aun , Qorun dan Haman dan sebangsanya yang paling disayang Allah, ternyata sebuah kenyataan bahwa mereka dihinakan Allah dengan sebab kesombongan akan atribut dunianya, dan kita ketahui bahwa kebanyakan pengikut para Nabi, adalah dari golongan rendah. Sedang Nabi Muhammad SAW lebih memilih menjadi Nabi yang hamba sahaya, pemahaman kita tentang hakekat dunia inilah yang harus kita pelajari. 

Dalam Al-Quran  diantaranya dunia ini digambarkan sebagai berikut :
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(Al Hadid:20)

Nabi SAW juga bersabda , “Orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati dan giat berbekal untuk menghadapinya.” Untuk membentengi dari pengaruh materialism dan fitnah Dajjal perlu juga untuk membiasakan membaca surat Kahfi. Siapa yang hafal 10 ayat permulaan (riwayat lain akhir) surat al Kahfi maka dia dilindungi dari Dajjal.(HR.Muslim).

Diatas telah dibahas tentang sikap kita jika menghadapi hal yang tidak sesuai keinginan, adapun jika misalnya tahun ini kita berhasil merealisasikan rencana kita, sikap kita seharusnya mencontoh Nabi Sulaiman AS, berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".(An Naml:40) [1097] Al kitab di sini Maksudnya: ialah kitab yang diturunkan sebelum Nabi Sulaiman ialah Taurat dan Zabur.

Jangan sampai mencontoh perkataan Qarun  : Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Al Qashash :78).

Sebagai tambahan Nasehat dari Ibrahim bin Adham ini mungkin bisa melengkapi
Wallahu A’lam, semoga Allah  terus menjaga dan memberi kekuatan kepada kita !

Biografi Singkat

Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Adham bin Manshur al ‘Ijli. Ia lahir di Balkh, sebelah Timur Khurasan, karenanya ia dikenal pula dengan nama Abu Ishaq al-Balkhi. Menurut catatan para ahli, seperti al-Bukhari (w. 870 M), ia merupakan keturunan kedua dari Umar bin Khattab, karenanya ia dikenal juga sebagai al-Tamimy. Ia meninggal tahun 162 H (777/8 M) dan dimakamkan di Jabala, Suriah. Ia adalah murid dari Fudhail bin Iyad, yang merupakan murid dari Abdul Wahid bin Zaid (murid dari Hasan al-Bashri). Salah satu murid Ibrahim bin Adham adalah Hudzaifah al-Mar'ashi.
Mungkin tidak ada yang banyak mengenal bahwa beliau adalah seorang pangeran dari Balakh. Seorang pangeran kaya raya dengan istananya yang megah gemilang. Kemegahannya saat itu belum ada
yang menandinginya. Meskipun hidup bergelimang harta dan kekuasaan tidak membuat hati beliau lalai. Bahkan beliau terkenal sebagai orang yang taat beribadah dan sangat penyantun terhadap sesama terlebih kepada orang-orang miskin di negerinya. Setiap Jum’at dikumpulkan para fakir miskin di depan istananya dan ditaburkannya uang dirham ke halaman istana. Ia juga gemar memberi hadiah bagi orang-orang yang dianggap berjasa serta memberi zakat dan shadaqah jariyah pada hari-hari tertentu.
Ibrahim bin Adham, dikenal orang tak pernah duduk dengan menumpangkan kakinya. Seorang muridnya kehairanan dan bertanya, “Wahai Guru, mengapa kau tak pernah duduk dengan bertumpang kaki?” “Aku pernah melakukan itu satu kali,” jawab Ibrahim, “Tapi kemudian aku dengar sebuah suara dari langit: Hai Anak Adham, apakah seorang hamba duduk seperti itu di hadapan tuannya?” Aku segera duduk tegak dan memohon ampun.”

Perihal Kematian Hati Manusia

Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang zuhud dan wara', ditanya tentang firman Allah ta'ala yang artinya, "Berdoa'alah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan do'a kalian." (QS. Ghafir: 60). Mereka mengatakan, "kami telah berdoa kepada-Nya namun belum juga dikabulkan". Lalu beliau menjawab, "Karena hatimu telah mati dengan sebab sepuluh perkara...

Kamu telah mengenal Allah tetapi kamu tidak menunaikan hak-hak-Nya.
Kamu telah membaca kitab Allah tetapi kamu tidak mengamalkannya.
Kamu mengatakan bermusuhan dengan syaitan, tetapi kenyataannya kamu setia dengannya.
Kamu mengaku cinta Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tetapi kamu meninggalkan sunnah-sunnah-Nya.
Kamu mengaku cinta surga, namun kamu tidak melakukan amalan-amalan ahli surga.
Kamu mengaku takut neraka, tetapi kamu tidak mau meninggalkan perbuatan dosa.
Kamu mengatakan bahwa kematian adalah benar adanya, tetapi kamu tidak bersiap-siap untuk kematian itu.
Kamu sibuk mencari aib orang lain sedang aibmu sendiri tidak kamu perhatikan.
Kamu telah makan dari rizki-Nya namun kamu tidak pernah bersyukur kepada-Nya.
Kamu sering mengubur orang mati, tetapi kamu tidak pernah mengambil pelajaran darinya.

Ada seorang yang datang kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah lalu berkata kepadanya, "Wahai Abu Ishak! Sesungguhnya aku telah berbuat zhalim kepada diriku, maka tunjukkanlah kepadaku sesuatu yang dapat menahan dan menyelamatkanku". Lalu Ibrahim berkata, "Jika Anda menerima lima hal dan mampu untuk melakukannya, maka tidak apa-apa Anda berbuat maksiat." Ia berkata,"Tunjukkanlah, wahai Abu Ishak!"
Beliau menjawab,"Yang pertama, jika Anda ingin berbuat maksiat kepada Allah, maka janganlah makan (dari) rizki-Nya." Ia berkata,"Darimana aku makan? Sementara semua yang ada di bumi adalah rizki-Nya?."
Ibrahim berkata, "Wahai fulan, pantaskah Anda memakan rizki-Nya sedang Anda berbuat maksiat kepada-Nya?." Ia menjawab, "Tidak (pantas), lalu tunjukkanlah yang kedua." Ibrahim berkata, "Jika Anda ingin berbuat maksiat kepada-Nya, maka janganlah tinggal di daerah mana saja dari bumi-Nya." Ia berkata, "ini lebih besar lagi, lalu dimana aku akan tinggal?." Ibrahim berkata, "Wahai fulan, pantaskah bagi Anda untuk makan dari rizki-Nya menempati bagian dari bumi-Nya sedang Anda berbuat maksiat kepada-Nya?" Dia menjawab, "Tidak! tunjukkan yang ketiga."
Ibrahim berkata, "Jika Anda ingin berbuat maksiat kepada-Nya, makan dari rizki-Nya, dan bertempat di bumi-Nya, maka carilah sebuah tempat yang tidak dilihat oleh Dia, lalu berbuatlah maksiat disitu." Dia menjawab, "Wahai Ibrahim, bagaimana hal itu terjadi sedang Dia mengetahui segala apa yang tersembunyi dalam hati?." Ibrahim berkata, "Wahai fulan, pantaskah bagi Anda untuk makan dari rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan berbuat maksiat kepada-Nya, sedang Dia melihatmu dan mengetahui kemaksiatan yang kamu tampakkan?." Ia menjawab, "Tidak! lalu tunjukkan yang keempat."
Ibrahim berkata, "Jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu maka katakanlah kepadanya, 'tundalah dahulu sampai aku bertaubat dengan sebenarnya dan beramal shalih'." Ia menjawab, "Dia tidak akan mau menerima hal itu dariku." Ibrahim berkata, "Wahai fulan, jika Anda tidak mampu menolak kematian Anda agar dapat bertaubat lebih dulu dan Anda pun mengetahui bahwasanya jika kematian itu datang Anda tidak bisa mengundurkannya, lalu bagaimana Anda menginginkan kebebasan?" Ia berkata, "Tunjukkan yang kelima."
Ibrahim berkata, "Apabila pada hari kiamat malaikat Zabaniyah datang kepada Anda untuk melemparkan Anda kedalam neraka, janganlah pergi bersamanya." Ia menjawab, "mereka tidak akan meninggalkanku, tidak akan mau menerima permintaanku." Ibrahim berkata, "kalau demikian, bagaimana Anda mengharap selamat?". Ia berkata, "wahai Ibrahim, cukup! cukup! Aku akan beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Dia lalu benar-benar bertaubat kepada Allah dan akhirnya dia beristiqomah dalam beribadah dan menjauhi segala kemaksiatan sampai ia meninggal dunia.

Syaqiiq al-Balkhi adalah teman Ibrahim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Allah. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja. Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrahim bin Adham bertanya, “Apa sebenamya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?”
Syaqiiq menjawab, “Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya.
Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki. Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat. Tiba-tiba datanglah seekor burung yang membawa makanan di paruhnya. Burung itu mendekatkan makanan ke paruh burung yang patah kedua sayapnya untuk menyuapinya. Maka saya berkata dalam hati, “Dzat yang mengilhami burung sehat untuk menyantuni burung yang patah kedua sayapnya di tempat yang sepi ini pastilah berkuasa untuk memberiku rejeki di manapun aku berada.”

Maka sejak itu, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan aku menyibukkan diriku dengan ibadah kepada Allah. Mendengar penuturan Syaqiiq tersebut Ibrahim berkata, “Wahai Syaqiiq, mengapa kamu serupakan dirimu dengan burung yang cacat itu? Mengapa Anda tidak berusaha menjadi burung sehat yang memberi makan burung yang sakit itu? Bukankah itu lebih utama? Bukankah Nabi bersabda, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah?”

Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti?
Syaqiiq tersentak dengan pernyataan Ibrahim dan ia menyadari kekeliruannya dalam mengambil pelajaran. Serta merta diraihnya tangan Ibrahim dan dia cium tangan itu sambil berkata, “Sungguh. Anda adalah ustadzku, wahai Abu Ishaq (Ibrahim).” (Tarikh Dimasyqi, Ibnu Asakir)

Hanya Karena Sebutir Kurma

Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak di dekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan Allah swt,” kata malaikat yang satu. “Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi..
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh Allah swt. gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. “Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya Ibrahim. “Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu. “Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”. Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita,
Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”. “Bagi saya tidak masalah. Insya Allah saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.” “Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.” Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.” “O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu.. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

10 Nasihat Ibrahim bin Adham

Suatu ketika Ibrahim bin Adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara’nya, melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliau pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai Guru! Allah telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-Nya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami tidak dikabulkan?”
Ibrahim bin Adham diam sejenak lalu berkata, “Saudara sekalian. Ada sepuluh hal yang menyebabkan doa kalian tidak dijawab oleh Allah.

F     Pertama, kalian mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak-hak-Nya.
F     Kedua, kalian membaca al-Quran, tapi kalian tidak mau mengamalkan isinya.
F     Ketiga, kalian mengakui bahwa iblis adalah musuh yang sangat nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya.
F     Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya.
F     Kelima, kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tak pernah melakukan amalan ahli surga.
F     Keenam, kalian takut dimasukkan ke dalam neraka, namun kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka.
F     Ketujuh, kalian mengaku bahwa kematian pasti datang, namun tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
F     Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri.
F     Kesembilan, kalian setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmat-Nya.
F     Kesepuluh, kalian sering mengantar jenazah ke kubur, tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa.”

Setelah mendengar nasehat itu, orang-orang itu menangis.
Dalam kesempatan lain Ibrahim kelihatan murung lalu menangis, padahal tidak terjadi apa-apa. Seseorang bertanya kepadanya. Ibrahim menjawab, “Saya melihat kubur yang akan saya tempati kelak sangat mengerikan, sedangkan saya belum mendapatkan penangkalnya. Saya melihat perjalanan di akhirat yang begitu jauh, sementara saya belum punya bekal apa-apa. Serta saya melihat Allah mengadili semua makhluk di Padang Mahsyar, sementara saya belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan saya selama hidup di dunia.”

Ketika Ibrahim Bin Adham Menangis

Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrahim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta wang untuk membayar karcis masuk. Ibrahim menggeleng dan mengaku bahwa ia tak punya uang untuk membeli karcis masuk.
Penjaga pemandian lalu berkata, “Jika engkau tidak punya uang, engkau tak boleh masuk.”
Ibrahim seketika menjerit dan tersungkur ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya. Seseorang bahkan menawarinya uang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.
Ibrahim menjawab, “Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini. Ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk, aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini kecuali jika aku membayar tiket masuknya, harapan apa yang boleh kumiliki agar diizinkan memasuki surga? Apa yang akan terjadi padaku jika mereka menuntut: Amal salih apa yang telah kau bawa? Apa yang telah kau kerjakan yang cukup berharga untuk boleh dimasukkan ke surga? Sama ketika aku diusir dari pemandian karena tak mampu membayar, aku tentu tak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tak mempunyai amal salih apa pun. Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.”
Dan orang-orang di sekitarnya yang mendengar ucapan itu langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrahim.