Selasa, 09 Juni 2020

Kisah Abah Umar Pendiri Asy-Syahadatain Versi IV


MENGENAL SEDIKIT TENTANG ASYSYAHADATAIN DAN PENDIRINYA

Abah Umar atau yang mempunyai nama asli Sayyid Umar dikenal oleh masyarakat Cirebon dan Indonesia sebagai pendiri Thoriqot Asy-Syahadatain.

Ciri dari Toriqot dan pengikut Abah Umar ini dapat mudah dikenali dari pakaiannya, mereka saat Ibadah pada umumnya mewajibkan jama'ahnya untuk memakai pakaian atau jubbah putih khas pakaian orang Arab pada jaman Nabi Muhamad masih hidup.
Ciri lain dari pengamal Thoriqot ini adalah wiridnya, biasanya mereka melakukan wiridan, atau pujian sebelum Sholat lima waktu dengan wiridan atau nadhoman yang diciptakan sendiri oleh Abah Umar.
Sebelum Abah Umar mendirikan Thoriqot As-Syahadatain pada tahun1947, beliau digambarkan sebagi pejuang dan Ulama yang kharismatik.
Gambaran mengenai riwayat hidup Abah Umar baik sebelum mendirikan Thoriqot dan sesudahnya dapat dipaparkan sebagai berikut :

MASA PENDIDIKAN

Sebelum mengawali kelana intelektualnya, Abah Umar mendapat pendidikan langsung dari ayahnya. Selain mendapatkan pelajaran keagamaan seperti membaca Al-Qur’an, hadits, fiqih, tauhid, nahwu, sharaf, mantiq, dan lainnya, Abah Umar juga memperoleh pendidikan pertanian dan bela diri.

Belum cukup dengan pendidikan yang diperoleh dari ayahnya, Abah Umar memulai pengembaraan pendidikannya ke Pondok Pesantren Ciwedus, Kuningan, Jawa Barat pada tahun 1903 M di bawah asuhan K.H. Ahmad Shobari yakni murid dari Mbah Kholil Bangkalan Madura selama dua tahun.

Abah Umar di Pesantren Ciwedus selalu hadir dalam pengajian yang disampaikan oleh K.H. Ahmad Shobari baik dalam pengajian kitab kuning maupun tausiyah.

Namun, beliau terlihat hanya tidur-tiduran bahkan pulas di samping sang kyai, sehingga para santri pun mencibir dan mencemooh.

Abah Umar menunjukkan khowariknya dengan mengingatkan Kyai Shobari jika salah dalam membaca kitab.

Begitu pun para santri yang sedang deres di kamar selalu diluruskan oleh beliau jika salah dalam membaca.

Dengan kejadian demikian para santri akhirnya memberikan hormat dan memuliakannya.

Dua tahun kemudian, Abah Umar pindah ke Pondok Pesantren Bobos, Palimanan di bawah didikan Kyai Sudjak.
Dari Pondok Bobos, selanjutnya Abah Umar belajar di Pondok Pesantren Buntet, Astanajapura, Cirebon pada tahun 1916 M yang diasuh oleh K.H. Abdul Jamil (hidup tahun 1842 – 1919 M) dan puteranya, K.H. Abbas bin K.H. Abdul Jamil (hidup tahun 1879 – 1945 M) sebagai kyai muda.

Setelah mengenyam pendidikan di Pesantren Buntet, Abah Umar melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Majalengka yang dipimpin oleh K.H. Anwar dan K.H. Abdul Halim.

Di Pondok Pesantren Majalengka ini, Abah Umar menimba ilmu selama lima tahun.

Tahun keenam, Abah Umar diangkat sebagai tenaga pengajar di madrasah oleh K.H. Abdul Halim.

K.H. Abdul Halim sebenarnya ialah senior Abah Umar ketika beliau mondok di Ciwedus. Di Pesantren Majalengka beliau seringkali terlibat dalam diskusi dengan para tokoh pesantren maupun para tokoh yang berada di persyarikatan Ulama.

Ada orang yang sangat berjasa yang telah membiayai Abah Umar selama menimba ilmu di pondok pesantren, yaitu K.H. Syamsuri dari Pesantren Wanantara, Cirebon.
K.H. Syamsuri yang biasa disebut juga dengan Mbah Syamsuri (hidup tahun 1872 – 1972 M) rutin mengirim beberapa karung beras dengan pedatinya ke pesantren di mana Abah Umar mengenyam pendidikan untuk biaya hidup selama di pondok pesantren.

MASA MENGAJAR dan BERDAKWAH

Setelah mengenyam pendidikan di berbagai pondok pesantren, Abah Umar kembali ke kampung halamannya.

Ketika pulang, beliau merasa miris melihat keadaan masyarakat yang terbiasa melakukan perbuatan maksiat, seperti berjudi, minum-minuman, dan lainnya, serta tidak terlepasnya masyarakat akan kepercayaan terhadap hal yang mistik seprti penyembahan terhadap leluhur dan nenek moyang.

Menyaksikan hal ini, Abah Umar merasa terpanggil untuk berdakwah dan menghidupkan kembali syariat Islam di kampungnya.

Abah Umar kemudian mendirikan sebuah jama'ah pengajian yang diadakan setiap malam Jum'at.

Awalnya pengajian ini mendapatkan tentangan keras, ejekan, dan cemoohan dari masyarakat.

Namun, beliau tetap semangat dalam menyebarkan kebenaran.

Lambat taun, pengajian Abah Umar semakin ramai didatangi oleh masyarakat yang ingin mengaji hingga memperoleh banyak jama'ah atau murid yang berasal dari berbagai daerah di sekitar Cirebon.

PROSES TERBENTUKNYA THORIKOT ASY-SYAHADATAIN

Seperti yang sempat diulas pada bagian masa mengajar dan berdakwah, sepulangnya Abah Umar dari belajarnya di pondok pesantren pada tahun 1923 beliau menyaksikan kemaksiatan tengah terjadi pada masyarakat di kampung halamannya.

Hal ini membuat Abah Umar memiliki niat untuk mengembalikan Akhlak masyarakat kepada syariat Islam.

Pada tahun 1937, Abah Umar mulai membuka pengajian di rumah beliau bersama istri beliau, Ummi Jamilah di Panguragan Wetan, Cirebon.

Namun, niat tulus Abah Umar menuai cibiran, ejekan, bahkan menganggapnya gila.

Bukannya hilang semangat, cibiran dan ejekan tersebut justru semakin menumbuhkan semangat menyebarkan syariat Islam.

Dari tahun ke tahun, pengajian yang diadakan oleh Abah Umar semakin memperoleh banyak murid.

Melihat aktivitas pengajian dan berkumpul di kediaman Abah Umar, pemerintah kolonial merasa curiga dan menganggap pengajian tersebut membahayakan kedudukan kolonial.

Maka, dengan tuduhan mengganggu stabilitas keamanan, Abah Umar ditangkap dan dipenjara pada tahun 1939 M.

Kejadian ini menjadikan jama'ah Abah Umar yang waktu itu didominasi oleh masyarakat Panguragan yang sudah menjadi pengikut setia beliau marah.
Akhirnya, jama'ah mengadakan gerilya dan menangkap siapa saja yang ditemui dan berhubungan dengan pemerintah kolonial Belanda.
Pemerintahan kolonial Belanda akhirnya merasa takut kepada para murid Abah Umar sehingga beliau dibebaskan dari penjara.
Pada tahun 1940 M, Abah Umar menjadikan kediamannya sebagai basis perjuangan, membuat perkembangan pengajiannya semakin ramai.
Anggota jama'ah yang mengikuti pengajian Abah Umar bukan hanya dari kalangan masyarakat Panguragan saja, akan tetapi dari luar kota juga, seperti Kuningan, Majalengka, dan Indramayu pun ikut bergabung dalam jama'ah beliau.

Perkembangan jama'ah yang semakin pesat ini membuat pemerintah kolonial Belanda geram, sehingga pada tanggal 24 Agustus 1940 M untuk kedua kalinya Abah Umar ditangkap dan pengajiannya ditutup dengan tuduhan yang sama, yakni mengganggu stabilitas keamanan dan tuduhan lainnya, yaitu menyebarkan ajaran sesat dan menyimpang.

Akhirnya, enam bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 20 Februari 1941 M Abah Umar dibebaskan dari penjara Keresidenan Cirebon.

Selepas keluarnya Abah Umar dari penjara yang kedua, Belanda berusaha membujuk beliau untuk bekerjasama, namun beliau tetap menolaknya. Oleh karena itu, pengawasan dan pendeskriditan Belanda kepada beliau semakin ketat.

Abah Umar tidak putus asa, beliau semakin merapatkan barisan dan mengadakan hubungan dengan para Alim Ulama guna menghimpun kekuatan untuk menentang Belanda di bawah naungan jama'ah yang beliau pimpin.

Di antara Ulama yang diajak kerjasama adalah Kyai Ahmad Sujak dari Bobos, K.H. Abdul Halim dari Majalengka, K.H. Mustofa dari Graksan, K.H. Ahmad Ridwan Yasin dari Wanantara, K.H. Anwar dari Cilimus, serta K.H. Zainal Asiqien dan Kyai Khozin dari Munjul Astanajapura.

Selanjutnya, ketika terjadi pendudukan Jepang di Indonesia, perlakuan Jepang terhadap jama'ah yang dipimpin Abah Umar juga tidak kalah kejamnya, karena dengan tegas Abah Umar dan jama'ahnya menentang Jepang, sehingga Jepang pun menangkap Abah Umar dan memasukkan beliau ke penjara pada 18 Juli 1943 M sampai dengan 25 April 1944 M.

Setelah kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1947 jama'ah Abah Umar secara resmi menamakan jama'ah pengajiannya dengan nama Thoriqot Syahadat Shalawat atau Jama'ah As-syahadatain.

Penamaan tersebut berkaitan dengan ajaran beliau yang menekankan tentang makna dua kalimat Syahadat dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Syahadat adalah dasar dan inti ajaran Islam yang justru banyak dilupakan oleh umat Islam.

Dinamakan juga dengan Thoriqot Syahadat Shalawat karena setiap selesai shalat fardhu, Abah Umar mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mengistiqomahkan membaca dua kalimat Syahadat dan diiringi dengan shalawat.

Bacaan Syahadat shalawat ini dibaca tiga kali (wa sallam- wa sallam- wa sallim). Demikianlah proses terbentuknya Thoriqot Asy-Syahadatain.

WAFATNYA ABAH UMAR

Pada tahun 1973, Masjid Abah Umar kedatangan khodim baru yang bernama Mar’i. Ia yang menjadi pelayan di dalam lotengnya Abah Umar.

Pada suatu hari dia mengambil pentungan kentong masjid dan memukul kepala Abah Umar sehingga beliau pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon.

Setelah beberapa bulan, beliau dipindahkan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Akhirnya tidak berselang lama, Abah Umar bin Ismail bin Yahya berpulang di RS Hasan Sadikin Bandung pada tanggal 20 Rajab 1393 H atau 19 Agustus 1973 M.

SISILAH SAYYIDI SYEHUNAL MUKAROMABAH UMAR
  1. Sayyidina Wamawlana Muhammad SAW.
  2. Sayyidina Fatimatuzahro
  3. Maulana Sayyidina Husein
  4. Imam Ali Zaenal Abidin
  5. Imam Muhammad Al-Bakir
  6. Imam Ja'far Shodik
  7. Imam Ali Al-Ariydho
  8. Imam Muhammad Annakib
  9. Imam Isya Annakib
  10. Imam Ahmad Al-Muhajir Ilallah
  11. Imam Ubaiydillah
  12. Sayyid Ali
  13. Sayyid Muhammad
  14. Sayyid Alwiy
  15. Sayyid Ali Khali qosam
  16. Sayyid Muhammad Shokhib Mirbath
  17. Sayyid Ali
  18. Sayyid Muhammad Al-Faqih Muqodam
  19. Sayyid Alwiy
  20. Sayyid Ali
  21. Sayyid Muhammad
  22. Sayyid Alwiy
  23. Sayyid Ali
  24. Sayyid Hasan
  25. Sayyid Yahya
  26. Sayyid Ahmad
  27. Sayyid Alwiy
  28. Sayyid Muhammad
  29. Sayyid Abdullah
  30. Sayyid Idrus
  31. Sayyid Ahmad
  32. Sayyid Syeh
  33. Sayyid Tohha
  34. Sayyid Syeh
  35. Sayyid Ahmad
  36. Sayyid Ismail
  37. Habibullah Abah Umar
Tidak ada yang mencintai kami ahlu bait kecuali orang yang beriman dan bertaqwa, dan tidak ada yang membenci kami kecuali orang munafik dan durhaka. 

CATATAN :
Di dunia ini dalam sejarah memiliki berbagai macam versi. walaupun setiap versi itu berbeda-beda jalan ceritanya, tetapi kalau kita cermati dari sekian banyak versi maka akan menemukan titik temunya. 

Maka dari itu, janganlah kita berdebat gara-gara perbedaan versi apalagi sampai adu keringat. Karena islam tidak mengajarkan kita untuk saling menjatuhkan dalam satu ikatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar