Minggu, 23 September 2012

TIGA SERANGKAI SAHABAT KARIB SYEKHUNAL MUKARROM HABIB UMAR BIN ISMAIL BIN YAHYA




الحبيب علي بن حسين العطاس                                الحبيب علي بن عبدالرحمن الحبشيي                          الحبيب سالم جندان           

Ketiga-tiganya adalah sahabat karib dari Syechunal Mukarrom (Abah Umar) dan masing-masing saling bersilaturahmi dimasa hidupnya.

Beliau adalah (Dari kanan ke kiri):

1. Al-Habib Salim Jindan,seorang ULAMA pejuang yang menguasai banyak KITAB Salafusshalaeh.
2. Al-Habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi, beliau dikenal dengan sebutan Habib KWITANG.
3. Al-Habib Ali bin Husain Al-Athos, yang dikenal dengan sebutan Habib Bungur, beliau adalah GURU dari
    Ulama Betawi pada zamannya.

Riwayat Singkat Habib Salim Bin Jindan

Ulama habaib Jakarta ini menguasai beberapa ilmu agama. Banyak ulama dan habaib berguru kepadanya. Koleksi kitabnya berjumlah ratusan. Ia juga pejuang kemerdekaan. Pada periode 1940-1960, di Jakarta ada tiga habaib yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka itu: Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang), Ali bin Husein Alatas (Bungur) dan Habib Salim bin Jindan (Otista).

Hampir semua habaib dan ulama di Jakarta berguru kepada mereka, terutama kepada Habib Salim bin Jindan – yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk yang belum dicetak.

Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906) dan wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969), nama lengkapnya Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan. Seperti lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga mendapat pendidikan agama dari ayahandanya.

Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut.

Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, seorang ahli hadits dan fuqaha, yang sat itu juga memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga rajin menghadiri beberapa majelis taklim yang digelar oleh para ulama besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar yang ia kunjungi.

Dari perjalanan taklimnya itu, akhirnya Habib Salim mampu menguasai berbagai ilmu agama, terutama hadits, tarikh dan nasab. Ia juga hafal sejumlah kitab hadits. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadits ia mendapat gelar sebagai muhaddist, dan karena menguasai ilmu sanad maka ia digelari sebagai musnid.

Mengenai guru-gurunya itu, Habib Salim pernah berkata, “Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis para sahabat Rasulullah SAW dimana terdapat kekhusyukan, ketenangan dan kharisma mereka.” Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Tentang mereka, Habib Salim pernah berkata, “Cukuplah bagi kami mereka itu sebagai panutan dan suri tauladan.”

Pada 1940 ia hijrah ke Jakarta. Di sini selain membuka majelis taklim ia juga berdakwah ke berbagai daerah. Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, Habib Salim ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Itu sebabnya ia pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang maupun ketika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia seperti pada Aksi Polisionil I pada 1947 dan 1948.

Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa: dipukul, ditendang, disetrum. Namun, ia tetap tabah, pantang menyerah. Niatnya bukan hanya demi amar makruf nahi munkar, menentang kebatilan dan kemungkaran, tetapi juga demi kemerdekaan tanah airnya. Sebab, hubbul wathan minal iman – cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman.

Kembali Berdakwah

Setelah Indonesia benar-benar aman, Habib Salim sama sekali tidak mempedulikan apakah perjuangannya demi kemerdekaan tanah air itu dihargai atau tidak. Ia ikhlas berjuang, kemudian kembali membuka majelis taklim yang diberi nama Qashar Al-Wafiddin. Ia juga kembalin berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta, di beberapa daerah maupun di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kamboja.

Ketika berdakwah di daerah-daerah itulah ia mengumpulkan data-data sejarah Islam. Dengan cermat dan tekun ia kumpulkan sejarah perkembangan Islam di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Ia juga mendirikan sebuah perpustakaan bernama Al-Fakhriah.

Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam menjawab berbagai persoalan – yang kadang-kadang menjebak. Misalnya, suatu hari, ketika ia ditanya oleh seorang pendeta, “Habib, yang lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?” Maka jawab Habib Salim, “Semua orang akan menjawab, yang hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab yang mati sudah jadi bangkai.” Lalu kata pendeta itu, “Kalau begitu Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa — menurut keyakinan Habib — belum mati, masih hidup.”

“Kalau begitu berarti ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam sudah meninggal, sedang ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang,” jawab Habib Salim enteng. Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang. Ketika itu banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.

Habib Salim memang ahli berdebat dan orator ulung. Pendiriannya pun teguh. Sejak lama, jauh-jauh hari, ia sudah memperingatkan bahaya kerusakan moral akibat pornografi dan kemaksiatan. “Para wanita mestinya jangan membuka aurat mereka, karena hal ini merupakan penyakit yang disebut tabarruj, atau memamerkan aurat, yang bisa menyebar ke seluruh rumah kaum muslimin,” kata Habib Salim kala itu.

Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Iring-iringan para pelayat begitu panjang sampai ke Condet. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Alhawi, Condet, Jakarta Timur.

Almarhum meninggalkan dua putera, Habib Shalahudin dan Habib Novel yang juga sudah menyusul ayahandanya. Namun, dakwah mereka tetap diteruskan oleh anak keturunan mereka. Mereka, misalnya, membuka majelis taklim dan menggelar maulid (termasuk haul Habib Salim) di rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto Iskandar Dinata.

Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fachriyyah, diresmikan sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib Novel bin Salim di Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin Salim – dua putra almarhum Habib Novel. “Sekarang ini sulit mendapatkan seorang ulama seperti jid (kakek) kami. Meski begitu, kami tetap mewarisi semangatnya dalam berdakwah di daerah-daerah yang sulit dijangkau,” kata Habib Ahmad, cucu Habib Salim bin Jindan.

Ada sebuah nasihat almarhum Habib Salim bin Jindan yang sampai sekarang tetap diingat oleh keturunan dan para jemaahnya, ialah pentingnya menjaga akhlak keluarga. “Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah (perantara) dalam menuntun anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu lebih berpengaruh pada anak-anak dibanding nasehat orang lain.”

[Disarikan dari Manakib Habib Salim bin Jindan karya Habib Ahmad bin Novel bin Salim]

Sejarah Ringkas Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang

Kakek buyut beliau adalah Al-Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi. Beliau datang dari Hadramaut dan bermukim di Pontianak, Kalimantan Barat, hingga menikah disana.
Sedangkan kakek beliau adalah Al-Habib Abdullah bin Muhammad Alhabsyi. Beliau lahir di Pontianak.

Bersama para sultan dari keluarga Al-Qadri di Pontianak, beliau mendirikan Kesultanan Hasyimiyyah di Kalimantan Barat.
Beliau berdakwah dan berdagang di Pulau Jawa, hingga akhirnya menikah di kota Semarang, Jawa Tengah.Dalam pelayaran menuju Pontianak, beliau wafat di dasar laut, karena kapalnya karam.

Ayah beliau adalah Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi. Beliau lahir di kota Semarang, Jawa Tengah. Kemudian pindah ke Jakarta dan menikah dengan Hajjah Salmah, seorang gadis Betawi yang berasal dari Jatinegara.
Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi adalah sepupu pelukis terkenal, Raden Saleh Bustaman bin Yahya.

Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi wafat di Jakarta pada tahun 1296 H. bertepatan tahun 1881 M.
Beliau dimakamkan di Cikini, tepatnya dibelakang Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang pada saat itu milik Raden Saleh. Sedangkan Ibunda beliau, Hajjah Salmah wafat pada 2 rajab 1351 H. dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Abang.

Silsilah Habib Ali Kwitang :

AL HABIB ALI bin ABDURRAHMAN bin ABDULLAH bin MUHAMMAD bin HUSEIN bin ABDURRAHMAN bin HUSEIN bin ABDURRAHMAN bin HADI bin AHMAD ALHABSYI bin ALI bin AHMAD bin MUHAMMAD ASSADULLAH bin HASAN AT-TURABI bin ALI bin MUHAMMAD AL-FAQIH AL-MUQADDAM bin ALI bin MUHAMMAD SHAHIB MIRBATH bin ALI KHALA QASAM bin ALWI bin MUHAMMAD bin ALWI bin UBAIDILLAH bin AHMAD AL-MUHAJIR bin ISA bin MUHAMMAD AN-NAQIB bin ALI AL-URAIDHI bin JA'FAR ASH-SHODIQ bin MUHAMMAD AL-BAQIR bin ALI ZAINAL ABIDIN bin HUSEIN bin ALI BIN ABI THALIB suami FATIMAH AZ-ZAHRA binti RASULULLAH SAW.

Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang mempunyai anak :
Abdurrahman - Rogayah - Khadijah - Mahani - Zahra - Sa'diah – Muhammad

Al-Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang lahir di Jakarta pada hari Ahad 20 Jummadil Awwal 1286 H. bertepatan dengan 20 April 1870 M. Dan beliau wafat pada hari Ahad 20 Rajab 1388 H. bertepatan dengan 13 Oktober 1968 M.

Habib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi, ayah Habib Ali tidak lama mendampingi putera yang beliau cintai itu.Beliau wafat ketika Habib Ali berusia sepuluh tahun.
Sebelum wafat, beliau berpesan kepada istrinya agar anaknya tersebut dikirim ke Hadramaut untuk menuntut ilmu disana.
Untuk memenuhi pesan suaminya tersebut, Hajjh Salmah menjual satu-satunya perhiasan berupa gelang untuk biaya perjalanan anaknya tersebut ke Hadramaut.
Dua tahun setelah ayahnya wafat, Habib Ali berangkat ke Hadramaut, dengan bekal hanya ongkos ticket kapal laut.Di Hadramaut, beliau tidak menyia-nyiakan waktunya untuk menuntut ilmu.
Beliau sangat menyadari bahwa sang ibu tidak mampu untuk mengirimkan uang kepadanya. Dan beliau bekerja sebagai pangembala kambing untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Sesuai wasiat dari ayahnya,setibanya di Hadramaut tempat yang pertama kali dituju adalah "Rubat" Al-Habib Abdurrahman bin Alwie Al-Aydrus.

Selain belajar di dalam "Rubat" tersebut, Al-Habib Ali juga berguru kepada para ulama dan auliya yang berada di Hadramaut, diantaranya adalah : Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi, Al-Imam Al-Habib Hasan Al-Attas, Al-Habib Hasan bin Ahmad Al-Aydrus, Al-Habib Zein bin Alwie Ba'bud, Asy-Syekh Hasan bin Awadh Mukhaddam, Al-Imam Al-Habib Muhammad Al-Masyhur, Al-Habib Umar bin Idrus bin Alwie Al-Aydrus, Al-Habib Alwie bin Abdurrahman Al-Masyhur, dan masih banyak lagi ulama serta auliya yang menjadi guru beliau.

Pada tahun 1303 H bertepatan dengan tahun 1886 M, beliau pulang ke Tanah Air.
Sesampainya di Indonesia, beliau melanjutkan perburuan ilmu kepada para ulama dan auliya di Indonesia, diantaranya adalah : Al-Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya, K.H. Abdul Hamid, K.H. Mujtaba bin Ahmad, Al-Habib Muhammad bin Alwie Ash-Shulabiyah Al-Aydrus, Al-Habib Salim bin Abdurrahman Al-Jufri, Al-Habib Husein bin Muchsin Al-Attas, Al-Habib Abdullah bin Muchsin Alp-Attas, Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor, Al-Habib Ahmad bin Muchsin Al-Haddar, dan masih banyak lagi guru-guru beliau.

Penghormatan Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi terhadap para gurunya
Al Habib Ali sangat menghormati dan menjunjung tinggi para ulama, auliya, serta para guru-guru beliau.
Sebelum mendapat izin dari gurunya, Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas, beliau belum berani mengenakan imamah. Setelah mendapatkan ijazah dan izin dari gurunya, barulah beliau mengenakannya setiap saat.
Al-Habib Ali selalu menyelipkan surat-surat dari gurunya disela-sela imamah yang dikenakannya.
Ketika beliau wafat, sesuai dengan wasiatnya, imamah dan surat-surat tersebut juga dimasukkan ke dalam makamnya. Juga abwa (kain selempang untuk duduk, yang biasa dikenakan oleh penduduk Hadramaut), sorban,, dan seuntai tasbih dari Al-Imam Al-habib Ali bin Muhammad Alhabsyi, yang juga ikut dimasukkan ke dalam kuburnya.

Isyarah dari para Auliya
Ketika terjadi peperangan di Libya, Tripoli barat, Al-habib Utsman bin Yahya memerintahkan Al-habib Ali untuk naik mimbar dan berpidato di Masjid Jami’ di hadapan ribuan jama’ah yang hadir di masjid tersebut, dalam rangka mendo’a kan kaum muslimin yang saat itu sedang dibantai di Tripoli. Padahal sebelumnya Al-Habib Ali belum pernah tampil sama sekali diatas mimbar, mengingat usia beliau yang sangat muda. Sejak itu lidahnya sangat fasih dalam memberikan nasihat dan kemudian menjadi seorang da’I yang pengaruhnya menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Pernah suatu saat beliau pergi ke Pekalongan, Jawa Tengah guna berkunjung ke rumah Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas.
Saat itu hari Jum’at. Dan setelah selesai shalat Jum’at, Al-Habib Ahmad menggandeng tangan Al-Habib Ali dan menaikkannya ke atas mimbar, padahal usia Al-habib Ali saat itu masih sangat muda.
Al-Habib Ali berkata kepada Al-habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas : “Wahai habib, aku tidak dapat berbicara bila antum berada diantara mereka”.
Lalu Al-Habib Ahmad mengatakan : “Wahai anakku Ali, berbicaralah engkau menurut lidah orang lain”.

BIRRUL WALIDAIN

Khidmat dan rasa bakti terhadap ibunya sangatlah luar biasa. Tidak pernah sekalipun beliau membantah perintah ibunya.
Pernah pada suatu saat ketika beliau sedang melakukan perjalanan dakwak ke Singapura. Kemudian sang ibu mengirim telegram, yang isinya memerintahkannya untuk segera pulang ke Jakarta. Tanpa menunda-nunda, Al-Habib Ali segera pulang ke Jakarta untuk memenuhi panggilan ibunya tersebut.
Maka tidaklah mengherankan jika ilmu yang beliau miliki sangatlah berkah dan bermanfaat. Dakwah beliau dimana-mana mendapat sambutan yang luar biasa.

KE TANAH SUCI

Ketika Habib Ali berusia 20 tahun, beliau mengadakan pengajian sambil berdagang kecil-kecilan di Pasar Tanah Abang. Pada usia iyu pula Habib Ali menikah dengan Hababah Aisyah Aisyah Assegaf dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beberapa waktu kemudian beliau berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji serta ziarah ke makam datuknya Rasulullah SAW di Madinah.

Selama di tanah suci beliau pergunakan waktunya untuk menuntut ilmu dan meminta ijazah pada para ulama dan auliya yang berada di Makkah, diantaranya : Asy-Syeikh Muhammad Said babshil, As-Sayid Umar bin Muhammad Syatha’, Asy-Syeikh Umar bin Abubakar Bajunaid, Asy-Syeikh Abdullah bin Muhammad Shaleh Zawawi, Asy-Syeikh Umar hamdan Al-Maghribi. Ketika di Madinah beliau belajar kepada Al-Habib Ali bin Ali Alhabsyi, Al-Habib Abdullah Jamalulail, dan Asy-Syeikh Sulaiman bin Muhammad Al-Azab (putera dari penggubah Maulid ‘Azab), dan masih banyak lagi guru-guru beliau yang berada di Hijaz saat itu. Disana beliau mendapatkan ijazah untuk mensyiarkan maulid Al-Azab langsung dari putera shahibul maulid, Asy-Syeikh Umar bin Muhammad Al-‘Azabi.

Selama hayatnya Al-habib Ali menunaikan haji sebanyak tiga kali.
Pertama kalinya pada tahun 1311 H / 1894 M, saat Makkah berada dibawah kuasa Syarif Aun.
Kedua pada tahun 1343 H / 1925 M, dimasa Syarif Husain.
Dan yang ketiga pada tahun 1354 H / 1936 M, dimasa kekuasaan Ibnu Sa’ud.

MAJLIS TA’LIM KWITANG

Setibanya di tanah air beliau mulai berdakwah dan mengajar. Masyarakat Jakarta sangat antusias mengikuti dakwah beliau. Semakin hari yang mengikuti Majlis Ta’lim beliau, semakin banyak.
Karena dorongan dari para murid dan semakin banyaknya masyarakat yang belajar kepada beliau, maka beliaupun mendirikan sebuah majlis ta’lim di Kwitang, Jakarta Pusat. Belakangan ini majlis tersebut berkembang menjadi Islamic Center Indonesia.

Majlis Al-habib Ali Alhabsyi di Kwitang merupakan majlis ta’lim pertama di Jakarta. Sebelumnya tidak ada seorangpun yang berani membuka majlis ta’lim, karena kegiatan dakwah saat itu sangat dibatasi dan diawasi secara ketat oleh kolonial Belanda. Barulah setelah wafatnya Al-habib Ali Alhabsyi, mulai bermunculan beberapa majlis ta’lim di jakarta pada khususnya, dan si seluruh penjuru tanah air pada umumnya.
Al-habib Ali Alhabsyi sebagai perintis majlis ta’lim di tanah Betawi, yang beliau adakan di Kwitang, jakarta Pusat, yang juga merupakan cikal bakal berdirinya majlis ta’lim di seluruh tanah air.
Dari majlis tersebut tidak pernah terdengar caci maki terhadap seseorang atau golongan. Didalamnya tidak diajarkan melaknat atau mengkafirkan seseorang atau golongan lain. Majlis tersebut penuh dengan ilmu, nasihat, akhlak, dan perilaku yang baik serta dipenuhi dengan rahmat. Dakwah semacam inilah yang telah diwariskan oleh Rasulullah lima belas abad silam, yang datang sebagai rahmat dan pembawa perdamaian bagi alam dfan seluruh ummat manusia.

Para ulama Betawi yang ada saat ini pasti pernah belajar di Majlis Ta’lim Kwitang, atau belajar kepada orang yang pernah belajar di Majlis Ta’lim Kwitang.
Majlis ini berdiri lebih dari satu abad, ini dikarenakan beliau mengajar dengan ikhlas.
Ajaran Islam yang disuguhkan di majlis tersebut adalah “Ahlussunnah Wal Jama’ah”, nilai-nilai akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kebersihan hati dan jiwa melalui ajaran tasawwuf.
Beliau tidak mengajarkan kebencian, iri, hasud, dengli, ataupun fitnah. Sebaliknya Al-habib Ali selalu mengembangkan tradisi “salafunasshalih” dan Ahlil Bait yang menjunjung tinggi “ukhuwah islamiyah”, nilai-nilai kemanusiaan dan menghormati setiap manusia tanpa membedakan statusnya.
Majalah “Panji Poestaka” nomor tujuh puluh tiga, tanggal 11 September 1928, tahun ke enam, memberitakan sebuah tulisan dalam rubrik serba-serbi dengan tajuk Toean Sajid Ali bin Abdoerrahman Al-habsyi, Kwitang, Weltevreden.
Dalam tulisan itu diantaranya dikatakan :
“Kalau di Betawi ada orang bertanya, Apakah Toean di hari Minggu depan maoe hadir ? Maka itoe artinya : hadir di mesjid Kwitang sebeloem sembahyang lohor, boeat mendengarkan taswir Toean Sayid Ali.
Pendoedoek Betawi jang bagian ahli agama, sangat memerloekan datan ke mesjid itoe, bahkan orang djaoeh-djaoeh, seperti dari daerah Bogor, Bekasi, dan lain-lain tidak sedikit jang datang, hingga beratoesan djoemlahnya.

Bagaimana chidmat pendoedoek Betawi dan sekitarnya kepada beliau. Dapat kami gambarkan dengan singkat demikian, kata orang-orang Betawi, sedjak jang moelia Toean Sayid Oesman wafat, maka Toean Sayid Ali lah bapa boeat moeslimin Betawi. Belialah pakoenya tanah Betawi”.
Tulisan tersebut selain menggambarkan betapa agamisnya masyarakat Betawi sejak dulu dan juga menunjukkan betapa besar dan pentingnya bagi masyarakat Betawi peranan habaib pada umunya, dan Al-habib Utsman bin yahya serta Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-habsyi pada khususnya.

KEBERHASILAN AL-HABIB ALI DALAM BERDAKWAH

Al-habib Ali bin Abdurrahman Al-habsyi merupakan satu diantara banyak tokoh ulama di Indonesia yang pengaruhnya sangat luas. Beliau dikenal memiliki kelebihan dalam dakwahnya yang menyentuh hati.
Beliau juga dipandang sebagai tokoh yang dapat mempersatukan dan membangun persaudaraan para Habaib dan Kyai di Jakarta. Bahkan beliau dapat membuat orang-orang yang tadinya benci, memusuhi, dan tidak suka padanya, berbalik menjadi suka dan sangat mencintainya. Ini semua karena akhlak dan budi pekerti beliau.

Keberhasilan ini disebabkan kebijaksanaan, kesabaran, dan ketekunan Al-Habib Ali dalam menyajikan Islam. Beliau menyajikan Islam sebagai agama yang mudah, sehingga dapat diterima sepenuh hati oleh penduduk setempat. Yang kemudian dengan sukarela mereka meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya.
Dengan keluhuran akhlak dan kehidupan yang bersahaja serta ketaatan beragama seperti ytang beliau warisi dari para leluhurnya, sehingga beliau berhasil memikat hati penduduk pribumi. Dan dalam waktu yang singkat, Islam telah berhasil menyebar keseluruh pelosok Indonesia.

Pengaruh Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi dikalangan muslimin pribumi dapat dilihat dari apa yang telah dikatakan Al-habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Al-haddad Bogor, kepada Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas Bungur, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “Tujul A’rasy” jilid dua, halaman 180 : “Dakwak Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi telah memenuhi telinga-telinga kaum muslimin, sebagaimana kitab-kitab Al-Habib Utsman bin yahya telah memenuhi rumah-rumah mereka”

Menurut Mr. Hamid Al-Qadri, seorang tokoh politik dan pejuang kemerdekaan. Selain ulama, Al-habib Ali Kwitang juga merupakan pejuang kemerdekaan. Beliau ikut mendorong berdirinya partai politik yang berazaskan Islam pertama kali di Indonesia yang dikenal dengan Parta Syarikat Islam, pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim.
Saking semangatnya dalam perjuangan dalam membangkitkan perlawanan rakyat terhadap penjajah, di zaman pendudukan Jepang, Al-Habib Ali pernah dijebloskan ke penjara bersama Haji Agus Salim. Dengan hukuman penjara, bukan menghentikan perlawanannya terhadap penjajah, malah beliau terus menentang dan melawan. Dan namanya kian mengharum.
Harumnya nama Al-Habib Ali menjadi buah bibir di masyarakat dikala itu. Kemasyhuran Al-habib Ali tersebut sehingga dibuatkan gubahan dan untaian syair oleh beberapa pujangga, diantaranya adalah : Al-habib Mihammad bin Ahmad Al-Muchdhor, Al-habib Ahmad bin Abdullah Assegaf, Asy-Syekh fadhil Irfan, Al-habib Soleh bin Mukhsin Al-Hamid (Tanggul), Al-Habib Segaf bin Abubakar Assegaf. Juga Asy-Syekh Yusuf bin Ismail Nabhan pun memasukkan nama Al-Habib Ali Kwitang dalam kitabnya yang berjudul “Jami’ Karamah Auliya”

Habib Ali bin Husein Al - Aththas ( Bungur ) 

Nasab Habib Ali bin Husein Al-Aththas
Habib Ali bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Habib Ali bin Husein al-Aththas, yang terkenal dengan sebutan Habib Ali Bungur, adalah salah seorang rujukan terpenting bagi para habib dan ulama di Jakarta. Murid-muridnya banyak yang menjadi tokoh terkemuka, diantaranya habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi ( putra habib Ali Kwitang ), habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih ( Malang ), KH. Abdullah Syafi'i, KH>Syafi'i Hadzami, KH.Thohir Rohili, KH.Abdurrazzaq Ma'mun, Prof.KH.Abu Bakar Aceh ( penulis terkenal dan produktif di masanya )
Habib Ali bin Husein Al-Aththas lahir di Huraidhah, Hadramaut, pada tanggal 1 Muharram 1309 H ( 1889 M ). Sejak usia enam tahun beliau belajar ilmu-ilmu keislaman pada sebuah Ma'had di Hadramaut. .
Pada tahun 1912 beliau menunaikan ibadah haji dan kemudian menetap di Makkah untuk menuntut ilmu selama lima tahun. Setelah itu beliau kembali ke Huraidhah dan mengajar disana. Tiga tahun kemudian, beliau tiba di Jakarta dan menetap hingga akhir hayatnya.

Setelah tinggal di ibu kota, beliau banyak berhubungan dengan para tokoh terkemuka di Indonesia; dan mengambil ilmu, sanad daqn ijazah dari mereka. Di antaranya, Ha bib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas ( Bogor ), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar ( Bondowoso ), Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Al-Aththas ( Pekalongan ), Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi.

Semasa hidupnya, Habib Ali dikenal sangat alim, tenang, memiliki kharisma dan berwibawa, menempati kedudukan yang sangat tinggi di kalangan Ulama dan masyarakat awam. Tokoh Ulama dan habib terkemuka ini selama lebih dari 50 tahun mensyiarkan ilmu-ilmu agama islam dengan membuka majelis ta'lim di rumahnya.

Para penunutut ilmu dan pecintanya datang dari berbagai tempat. Ada yang mengikuti pengajian – pengajian umum ( di lingkungan pesantren dikenal dengan istilah bandongan ), ada pula yang khusus ( sorogan ). Dia juga mengajar di tempat-tempat lain, misalnya di perguruan Asy-Syafi'iyyah, yang didirikan oleh salah seorang muridnya, KH.Abdullah Syafi'i.

Lewat tangan Habib Ali Al-Aththas, lahir sebuah karya besar dan penting, kitab Taj al-A'ras fi Manaqib al-Habib al-Quthb Shalih bin Abdullah al-Aththas; terdiri dari dua jilid tebal, jilid pertama 812 halaman ( termasuk dafatar isi ) sedangkan jilid ke dua 867 halaman. Dalam kitab yang diterbitkan tahun 1977 ini, Habib Ali menguraikan perjalanan hidup banyak tokoh Ulama dan orang-orang terkemuka yang pernah beliau jumpai, khususnya di Hadramaut, baik dari kalangan Habaib maupun yang lain.
Dalam kitabyang terbilang langka ini, juga terdapat ulasan – ulasan mengenai persoalan-persoalan penting. Baik yang berkaitan dengan habaib maupu yang bersifat umum.

Seperti dalil-dalil tentang karomah para wali, bahasan tentang 'ilmu yaqin, haqqul yaqin dan 'ainul yaqin. Juga mengenai thariqoh Alawiyah, pandangan ulama Alawiyyinmengenai karya-karya Ibnu Arabi, air zam zam, firasat orang mu'min sebagaimana yang tertera dalam hadits, ruqyah.

Dibahas pula mengenai penjajahan Inggris terhadap Hadramaut, keadaan Hadramaut sebelum dijajah, serangan kaum Wahabi di Huraidhah dan Wadi 'Amd, masuknya islam di Jawa, Sultan Hasanuddin Banten, perang dunia II, mengenai Imam Yahya dari Yaman, tentang Betawi, pemakaman tanah abang, kisah Laila dqan Majnun.

Juga persoalan – persoalan fiqih dalam Madzhab Syafi'I, celak mata dan lain-lain.
Salah seorang murid utama Habib Ali Bunguir adalah KH.Syafi'I Hadzami, ulama terkemuka Betawi yang sangat alim ini ( wafat 7 Mei 2006 ) mengaji kepada Habib Ali sejak sekitar tahun 1958 sampai sang guru wafat pada tahun 1976. banyak sekali yang dipelajari dari Habib Ali Bungur.

Kepindahan KH.Syafi'I Hadzami dari kebon sirih ke kepu, Kemayoran, adalah agar ia dapat lebih dekat dengan Habib Ali, yang tinggal di daerah Bungur, Senen. Seperti beberapa murid Habib Ali yang lain,KH Syafi'i Hadzami juga datang dengan membaca kitab di hadapannya. Dan itu dilakukan sebelum ia berangkat kerja ke kantornya di RRI, jln Merdeka Barat.

Ada pengalaman – pengalaman menarik yang dituturkan oleh KH.Syafi'i, sebagaimana tersebut dalam biografinya, Sumur yang tak pernah kering, berkaitan dengan gurunya ini. Di antaranya, dan yang paling berkesan, adalah kisah berikut :
Suatu hari Habib Ali sakit, KH.Syafi'i datang menjenguk. Sebagai penghormatan kepada guru dan untuk menjaga adab, ia melepas sandalnya di luar. Melihat KH.Syafi'i melepas sandalnya, Habib Ali menyuruhnya untuk memakainya lagi. Tentu saja KH.Syafi'i menolak.

Habib Ali pun kembali menyuruhnya. KH.Syafi'i tetap tidak mau, karena ia begitu menghormati gurunya.
Tidak lama kemudian Habib Ali keluar dari kamarnya. Dia mengambil sandal KH.Syafi'i dan menyuruhnya untuk memakainya. KH.Syafi'i terkejut dengan perlakuan gurunya tersebut. Selain menunjukkkan kecintaan yang luar biasa kepada muridnya, itu juga menunjukkkan akhlaq Habib Ali yang memang sangat dikagumi orang.

Kecintaan kepada KH.Syafi'i Hadzami adalah suatu hal yang wajar, karena pada saat mengaji ia terlihat begitu menonjol. Sehingga, pada suatu ketika Habib Ali melantunkan sebuah syai'r yang ditujukan kepadanya :
Siapa yang dapat menunjukkan kepadaku
Seperti perjalananmu yang dimudahkan
Engkau berjalan perlahan-lahan
Tetapi engkau sampai terlebih dahulu

Syair tersebut dituturkan Habib Ali di hadapan beberapa teman mengaji KH.Syafi'i, setelah dia mengetahui kumpulan fatwa KH>Syafi'i di Radio Cendrawasih telah diterbitkan.
Betapa besar perhatian Habib Ali kepada muridnya ini, sampai-sampai dia sendiri sering mendengarkan acara di radio ketika KH.Syafi'i sedang menyampaikan fatwa-fatwanya sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para pendengar. Habib Ali senang dengan jawaban KH.Syafi'i dan menyatakan pujiannya.

Ada lagi pengalaman mengesankan bagi KH.Syafi'i. seminggu menjelang wafat, Habib Ali memberikan ijazah kepadanya. KH.Syafi'i merasa senang, tapi sekaligus heran.
Suatu hal yang wajar bila KH Syafi'i merasa senang, karena pemberian ijazah itu menandakan kecintaan sang guru kepadanya, juga menunjukkan pengakuan atas ilmu yang dimilikinya. Namun ia juga merasa heran, karena selama puluhan tahun mengaji, gurunya ini belum pernah berbicara tentang ijazah. Karena itu ada perasaan tidak enak pada diri kiyai. Barangkali beliau akan segera pergi meninggalkannya. Begitulah pikiran yang ada dalam benaknya.

Ternyata kekhawatirannya itu menjadi kenyataan. Seminggu sesudah itu Habib Ali wafat, tepatnya pada tanggal 16 Februari 1976, dimakamkan di dekat masjid Al-Hawi Condet.
Mengenai berita wafatnya, harian Pelita tanggal 17 Februari 1976 menyebutkan penduduk Jakarta sangat berduka atas berita wafatnya seorang alim, Habib Ali bin Husein Al-Aththas, di rumahnya jl.Bungur, Senen, Jakarta pusat dalam usia 88 tahun.

Besok harinya surat kabar ini kembali memuat berita tentang Habib Ali dan menggambarkan suasana pemakamannya. Disebutkan, ribuan kaum muslimin mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Dalam acara pemakaman, sejumlah tokoh ulama menyampaikan sambutan. Yang mentalqinkannya adalah Habib Ali bin Ahmad bin Abdullah bin Tholib Al-Aththas dari Pekalongan. Dan yang memberi sambutan sebagai perwakilan pemerintah yakni Dr.KH.Idham Khalid, ketua DPR/MPR ketika itu, yang juga salah seoreang muridnya.

Untuk mengenang peran dan jasanya, harian Pelita pada tanggal 24 Februari 1976 memuat artikel tentang Habib Ali yang ditulis oleh Prof.KH.Saifuddin Zuhri, mantan menteri agama.
Setiap tahun pada hari selasa terakhir bulan Rabi'ul awal selalu diadakan haul Habib Ali Bungur di daerah Condet, Jakarta Timur.

Al-Kisah N0. 06 / Tahun V / 12 – 25 Maret 2007


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar